Gambar ilustrasi
Jumat, 12 November 2010
Bonban
Tiga minggu yang lalu saya melakukan perjalanan dari Cirebon ke Bandung . Saya naik bon-ban, alias bis trayek Cirebon–Bandung. Di tengah perjalanan, masih di sekitar Cirebon, naiklah seorang ibu-ibu berumuran kira-kira 40 tahunan. Ia duduk di sebelah saya. Ia bercakap-cakap dengan telepon genggamnya. Lumayan lama percakapannya. Setelah percakapan dengan telepon genggamnya itu selesai, ia menyapa saya dengan pertanyaan umum seperti “Mau kemana?” dan “Ongkosnya berapa ya?”. Terlihat dari obrolannya si ibu itu orangnya suka bercanda. Setelah bercakap timbal balik, diketahui kalau ibu itu mau pulang ke rumahnya di Majalengka. Ia ke Cirebon sesekali saja, untuk menemui temannya dalam rangka refreshing. “Mumet kerja terus, jadi main aja ke Cirebon ketemu temen” begitu katanya. Ia bekerja dengan mengendalikan sebuah perusahaan berupa PT. Ia juga bercerita kalau suaminya bekerja di PLN. Saya sempat sedikit kaget waktu ia berkata, “Saya ke Cirebon ya biasa sama temen-temen, jalan-jalan, nyabu”. Nah itu dia, NYABU. Waw! Ternyata seorang junkies. Tapi saya biasa saja, tidak menampakkan kaget atau antusias gimana. Setelah lumayan panjang lebar, ia minta nomor telepon saya. Hmm, coba kalau yang bertanya pada saya di bis seperti itu seorang gadis cantik..wah pasti menarik sekali. Hahaha.. Saya juga menyimpan nomor teleponnya. Tak lama kemudian ia bercakap-cakap lagi melalui telepon genggam dengan anaknya yang di rumah. Setelah kira-kira satu jam perjalanan, bis telah memasuki daerah Majalengka, ia bersiap untuk turun. Sesampainya di tujuan ia pun turun dan pamit turun lebih dulu. Begitulah kira-kira ceritanya. Minggu depan kalau saya naik bis lagi, akan bertemu orang seperti apa lagi ya? Hahaha..Nice Trip.
Jumat, 15 Oktober 2010
Kamis, 14 Oktober 2010
Beau Spéctacle II
Saya mungkin memang bukan orang yang easy going buat diajak kemana-mana. Kadang saya menolak ajakan teman2 , sodara, atau siapapun jika diajak pergi, meski untuk sekedar jalan-jalan biasa. Saya akui ketika menolaknya, terjadi perang batin sebelum saya bisa mengungkapkan kalimat penolakan saya. Meskipun demikian, saya tetap easy going untuk memenuhi ajakan saya sendiri. Hehehe. Walaupun sedikit ragu untuk berangkat (bila tak bersama teman), namun pada akhirnya saya tetap berangkat walaupun sendiri. Tidak hanya sekali dua kali, mungkin sudah lebih dari lima kali saya pergi ke suatu tempat dengan melangkah sendiri. Furthermore, pergi bersama teman atau saudara tetap lebih nyaman dan ngga celingukan sendiri.
Semingguan yang lalu, di Gasibu Bandung ada sebuah panggung musik judulnya Gudang Garam Intermusic Java Rocking Land. Pengisi acaranya ada Arkarna, The Sigit dan lain-lain. Saya menyukai lagu-lagu Arkarna dan The Sigit, jadi saya pikir sayang kalau melewatkannya begitu saja.
Setiba di Gasibu, ternyata untuk masuk menonton ke dalam area itu tidak ditiket alias gratis. Alexa sedang tampil di panggung. Setelah Alexa, band berikutnya yaitu The Sigit, begitulah kata pembawa acaranya. Saya berkeliling-keliling barangkali ada yang kenal, tapi ternyata tak ada yang kenal. Kemudian saya melihat stan Digital Mural. Seperti membuat graffiti, tapi disini berbeda media, medianya sensor spray yang diarahkan ke sensitive screen.
Dua eteh-eteh penjaga stan itu (cantik-cantik dan seksi tentunya), menawari saya dan beberapa penonton yang lain yang melihat stan itu untuk ikut menggambar di situ, tapi syaratnya harus membeli satu bungkus rokok sponsor acara itu, kalau gak salah 8500 rupiah. Saat giliran saya mendaftar, dua penjaga stan itu; si eteh yang satu, menanyai nama, nomor telpon dan alamat dan si eteh yang satunya lagi memberikan saya rokoknya dan pertransaksian uang. Lucunya, belum saja saya memberikan uang saya, saya malah mau dikasih kembalian, sambil dia menawar “mas, ada uang 500 gak? “. Kebetulan saya gak punya, jadi saya jawab aja, gak ada. “Kalau begitu kembalian 500-nya buat saya aja ya?” katanya. Pikir saya, “eh kan saya belum kasih uangnya? Kok udah dikembalian?!”. Lalu mereka sibuk menghitung jumlah semua uang di tas dan ternyata memang saya belum memberikan uang. Hahaha, kami bertiga tertawa.
Lalu tibalah giliran saya untuk mencoba layar digital itu. Sulit sekali menggunakannya. Sensornya sangat sensitive, repot juga. Saya hanya coba-coba saja, toh mungkin ngga seminggu sekali bertemu yang seperti beginian. Saya spontan terpikir untuk menuliskan kalimat “rock in rehab”. Tapi sayang tidak diabadikan dengan tustel, tak punya tustel, henpon made in china saya pun mati karena lowbet. Tapi percayalah ini bukan hoax.hehehe.
Tak lama kemudian tibalah saatnya The Sigit naik panggung. Saya menyukai lagu-lagunya waktu pertama melihatnya di acara les voilà di CCF. Lagu-lagunya nge-crunch. Setelah beberapa tahun kemudian hingga saya melihat penampilan mereka kembali waktu di Gasibu seminggu yang lalu itu, lagu-lagu di album baru yang dibawakan pada malam itu lebih terdengar eksperimental, tapi tetap bernuansa rock.
Setelah The Sigit, giliran Arkarna bernyanyi. Arkarna adalah band Inggris yang musiknya ke’techno-techno’an (menurut saya). Lagu pertama Arkarna yang saya dengar dulu judulnya So Little Time, sekitar tahun 2000-an. Saya tahu lagu itu dari kaset album Fresh Orange yang saya pinjam dari sepupu saya. Kata sepupu saya lagu So Little Time itu asik musiknya seperti bunyi helikopter. Setelah saya coba menyimaknya, ternyata benar, nikmat sekali terdengarnya. Sambil tidur-tiduran di kamar, saya tutup pintu, jendela dan mata. Lagu diputar, sekencang-kencangnya. Saya nikmati beatnya. Ouww..serasa terbawa terbang bersama heli, padahal saya belum pernah naik helikopter.hahaha..
Penampilan Arkarna seminggu yang lalu adalah penampilan mereka yang ke-4 kalinya (kalau tak salah), entah itu jumlah tampil di Indonesia atau di Bandung, saya kurang tahu. Yang pasti itu pertama kalinya saya melihat Arkarna secara live. Vokalisnya, (kalau tak salah juga) namanya Ollie Jacob. Waktu dulu saya lihat di sampul album fresh orange, tampangnya agak kurus dan gondrong mirip orang India, tapi sekarang nampak lebih gemuk dan rambutnya tak begitu gondrong, hanya tetap masih ikal. Penampilannya di panggung dibuka dengan lagu Life Is Free. Lagu ini muncul kira-kira sekitar tahun 2002, kalau gak salah juga itu juga. Setelah lewat beberapa lagu berikutnya, terdengarlah lagu yang saya kenal lagi, Rehab (kalau gak salah sih itu judulnya). Saya gak begitu asing dengan irama lagu ini, jadi sedikit mengikuti walaupun gak hapal liriknya. Dari kesemua lagu yang dibawakan, saya hanya tahu tiga judul. Maklum saya gak pernah beli kasetnya, hanya dengar single-singlenya saja dari radio atau melihat video klipnya di TV.
Sayang sekali, suasana khidmat saya pada malam penampilan Arkarna itu terganggu oleh ulah bocah-bocah punkrock ingusan yang rusuh. Anehnya mereka rusuh dengan sesama mereka yang sama attitude. Saya yakin mereka (bocah-bocah itu) hanya punkrock-punkrock ikut-ikutan. Tanpa tahu apa dan bagaimana filosofi punk itu sendiri. Walaupun pada dasarnya semuanya memang ngikut. Yah setidaknya lah yang ngga kebawa sakaba-kaba.hehehe.. Sebelum insiden rusuhnya bocah-bocah itu, Ollie sempat bilang (dalam bahasa inggris) kalau dalam bahasa saya mungkin begini ”saya kagum dengan penonton sebelah sana (sambil menunjuk bocah-bocah itu), tapi tolong jangan sampai ada yang hal-hal yang tidak kita inginkan” begitulah kira-kira. Bocah-bocah itu berpogo ria mengacak-acak genangan air sisa hujan sore disekitar depan panggung. Pogo yang lebay, pikir saya. Saya juga pogo, tapi ya sebisanya saya aja.heheh. Ketika mereka rusuh, polisi security menangkap beberapa diantara mereka, hampir semua pandangan penonton mengarah ke titik rusuh itu, tepat di samping saya kurang lebih tiga meteran. Saya cuek aja, sambil terus menikmati lagu-lagu yang dibawakan. Toh saya datang kesitu bukan untuk nonton yang rusuh, saya ingin nonton Arkarna. Kalau sudah begitu, mending pakai tiket saja untuk masuk ke acara itu, biar mereka (bocah-bocah punkrock itu) tak ikut masuk karena hanya mencemarkan nama Indonesia dan Bandung saja.
Lagu demi lagu terluapkan pada malam itu, sebelum mulai bernyanyi lagi, Ollie ngobrol-ngobrol lagi dengan penonton (saya kurang begitu mengerti yang dia ucapkan), tapi saya mendengar seperti dia bertanya “Kalian mau request lagu apa?”, saya langsung teriak “So Little Time!!”. Lagu itu belum dibawakan dari awal penampilan. Ternyata penonton yang lain pun sama berteriak seperti itu. Tak lama kemudian lagu itu pun disetel. Aransemennya berbeda dengan versi kasetnya. Yah memang biasanya seperti itu, versi kaset dan versi live kadang berbeda. Walaupun demikian saya sangat menikmatinya. Ber-sing along ria, karena lagu ini yang paling akrab di telinga saya. Menjelang akhir lagu, tepuk tangan para penonton di atas kepala membuat saya terkagum. Itulah akhir penampilannya.
Penonton sedikit demi sedikit meninggalkan Gasibu. Saya masih berdiri sambil membersihkan sisa-sisa cipratan si bocah-bocah tadi yang mengotori celana saya. Di jalan belakang Gasibu, bocah-bocah punkrock itu menghentikan truk buat pulang. Saya pikir mending mereka ngamen di jalanan saja daripada datang ke acara konser hanya untuk bikin rusuh saja. Hmmm c’est le beau spéctacle..
Kamis, 19 Agustus 2010
Di Balik Jeruji Besi
Hari ini sudah dua bulan Ridwan –sepupu saya– keluar dari penjara. Dia dipenjara gara-gara mengeroyok musuh temennya. Si korban pengeroyokan itu tidak terima dengan pemukulan yang ia terima dan mengadukan perkara tersebut ke Pak Polisy. Tentu saja Pak Polisy dengan senang hati membantunya. Atas saran tokoh masyarakat yang kebetulan masih family juga, Ridwan dan tiga teman lainnya yang menjadi pelaku pengeroyokan menghilang menghindari Pak Polisy yang ingin menangkapnya.
Ridwan menjadi seorang buronan. Saat itu yang saya tau dia menetap di luar kota, meninggalkan kampung halaman dan family. Masa buronan berakhir setelah kira2 setahun lebih, hingga polisy menangkapnya. Saat itu polisy mengetahui jejaknya bahwa Ridwan berada di kampungnya, Ridwan pun ditangkap. Hap! Sebenarnya bisa saja Ridwan dibebas kasuskan, tapi tentu saja itu ada harganya. Alhasil, dikarenakan jumlah uang yang diserahkan ke Pak Polisy hanya setengah dari jumlah yang diminta, maka masa penahanan pun diberikan setengah dari masa penahanan tuntutan pengadilan.
Ospek
Ridwan berkisah tentang masa-masa ketika ia berada di penjara, sungguh menyeramkan, memprihatinkan, tapi ada juga lucunya. Seperti halnya di sebuah kampus yang mengadakan masa penerimaan Mahasiswa Baru, di penjara pun sama, ada sesi penerimaan Narapidana Baru. Diospek dulu oleh Narapidana Lama. Narapidana Baru diwawancara oleh Narapidana Lama (format wawancarannya tentu saja berbeda dengan wawancara ospek pelajar,yang ini lebih sangar). Saat ia pertama masuk penjara,Napi Lama menanyakan alasan kenapa ia sampai bisa masuk penjara, tak lupa dengan dibumbui pukulan-pukulan yang diterima sebagai ucapan selamat datang di rumah baru. Rumah berjeruji besi.
Setelah beberapa bulan menjadi tahanan maka Ridwan pun menjadi seorang Narapidana Lama. Ia mengospek napi baru sama ketika ia pertama masuk penjara itu. Berbagai alasan orang-orang dipenjara memang bermacam-macam. Yang lucu, ada yang masuk penjara hanya karena mencuri timbel. Ridwan yang bertanya dengan serius sambil muka marah merasa tidak percaya, merasa dibercandakan. Tapi akhirnya ternyata memang benar apa yang dijawab si napi baru itu. Napi baru itu bercerita, ketika itu ia sedang lapar di sawah, ia bertemu dengan orang yang punya timbel. Tapi karena timbelnya cuma ada satu, maka si orang yang punya timbel tidak memberinya. Hingga si yang mpunya timbel itu lengah, dicurilah timbel itu. Yang mpunya timbel merasa sakit hati dan melaporkannya ke polisi.
Ada lagi cerita lainnya, seorang polisy berseru di depan para napi lama “ada yang baru nih, ényé ényé..”. Enye itu maksudnya napi yang masuk penjara karena kasus perkosaan. Malang sekali nasib si Napi itu, dia diospek disuruh onani (di depan para napi lainnya). Walaupun menolak, pengospek tak akan merubah idenya. “Ari ka awewe bisa?!”. “Harus sampai keluar! “ kata salah seorang pengospek. Kira-kira ketika sedikit lagi mau keluar, sang burung napi tersebut diolesi balsem.
Sel Tikus
Nah ini dia yang sedikit menyeramkan. Kata Ridwan, jika kamu hidup dalam penjara, prinsipnya kamu harus cari teman. Jika cari musuh, maka akan celaka. Jika suatu hari petugas tahanan menemukan dua orang napi sedang berkelahi, maka dua orang napi itu dimasukkan ke dalam sel tikus untuk waktu tertentu. Jika seorang napi berkelahi dikeroyok, maka napi yang dikeroyok itu yang dimasukan ke sel tikus (meskipun ia pada posisi pihak yang benar dalam suatu perkara yang ia ributkan). Sialnya, sel tikus itu ukurannya cuman satu kali satu meter. Selama berada di sel tersebut, penghuni sel ini tidak bisa keluar meskipun untuk buang hajat. Semua yang ia lakukan semuanya harus di dalam sel itu. BAB, makan, tidur dll dilakukan di dalam sel 1x1m itu. Tanpa air untuk bersih-bersih. Makan pun saya kira ia tak selera. Tidur entah bagaimana. Miris sekali.. Sering terdengar rintihan napi yang berada di sel tikus itu. Tapi apalah daya, Ridwan dan teman-teman lainnya tak bisa membantu.
Tukang Tato
Dalam penjara, Ridwan berteman satu sel dengan napi yang berprofesi tukang tato. Dengan alat tato sederhana dan seadanya, Ridwan pun ikut menjadi pasien tukang tato itu. Kalau saja petugas tahanan menemukan kegiatan ini, petugas akan menghukum si tukang tato itu dan menyita alat-alatnya. Proses bertato tersebut dilakukan sembunyi-sembunyi.
Tak Lupa Mengaji
Selama di dalam sel, Ridwan tak lupa mengaji alqur’an. Ia bercerita kalau ia khatam alquran sampai empat kali. Katanya itu untuk jaga-jaga mental. Banyak kejadian, ketika seorang napi yang tak lama lagi akan dibebaskan (keluar dari penjara), napi itu malah stress, terganggu psikisnya.
Bebas
Kini, Ridwan bebas dari penjara dengan damai. Ia bukan seorang buronan atau tahanan lagi. Selamat datang kembali brad!
Ridwan menjadi seorang buronan. Saat itu yang saya tau dia menetap di luar kota, meninggalkan kampung halaman dan family. Masa buronan berakhir setelah kira2 setahun lebih, hingga polisy menangkapnya. Saat itu polisy mengetahui jejaknya bahwa Ridwan berada di kampungnya, Ridwan pun ditangkap. Hap! Sebenarnya bisa saja Ridwan dibebas kasuskan, tapi tentu saja itu ada harganya. Alhasil, dikarenakan jumlah uang yang diserahkan ke Pak Polisy hanya setengah dari jumlah yang diminta, maka masa penahanan pun diberikan setengah dari masa penahanan tuntutan pengadilan.
Ospek
Ridwan berkisah tentang masa-masa ketika ia berada di penjara, sungguh menyeramkan, memprihatinkan, tapi ada juga lucunya. Seperti halnya di sebuah kampus yang mengadakan masa penerimaan Mahasiswa Baru, di penjara pun sama, ada sesi penerimaan Narapidana Baru. Diospek dulu oleh Narapidana Lama. Narapidana Baru diwawancara oleh Narapidana Lama (format wawancarannya tentu saja berbeda dengan wawancara ospek pelajar,yang ini lebih sangar). Saat ia pertama masuk penjara,Napi Lama menanyakan alasan kenapa ia sampai bisa masuk penjara, tak lupa dengan dibumbui pukulan-pukulan yang diterima sebagai ucapan selamat datang di rumah baru. Rumah berjeruji besi.
Setelah beberapa bulan menjadi tahanan maka Ridwan pun menjadi seorang Narapidana Lama. Ia mengospek napi baru sama ketika ia pertama masuk penjara itu. Berbagai alasan orang-orang dipenjara memang bermacam-macam. Yang lucu, ada yang masuk penjara hanya karena mencuri timbel. Ridwan yang bertanya dengan serius sambil muka marah merasa tidak percaya, merasa dibercandakan. Tapi akhirnya ternyata memang benar apa yang dijawab si napi baru itu. Napi baru itu bercerita, ketika itu ia sedang lapar di sawah, ia bertemu dengan orang yang punya timbel. Tapi karena timbelnya cuma ada satu, maka si orang yang punya timbel tidak memberinya. Hingga si yang mpunya timbel itu lengah, dicurilah timbel itu. Yang mpunya timbel merasa sakit hati dan melaporkannya ke polisi.
Ada lagi cerita lainnya, seorang polisy berseru di depan para napi lama “ada yang baru nih, ényé ényé..”. Enye itu maksudnya napi yang masuk penjara karena kasus perkosaan. Malang sekali nasib si Napi itu, dia diospek disuruh onani (di depan para napi lainnya). Walaupun menolak, pengospek tak akan merubah idenya. “Ari ka awewe bisa?!”. “Harus sampai keluar! “ kata salah seorang pengospek. Kira-kira ketika sedikit lagi mau keluar, sang burung napi tersebut diolesi balsem.
Sel Tikus
Nah ini dia yang sedikit menyeramkan. Kata Ridwan, jika kamu hidup dalam penjara, prinsipnya kamu harus cari teman. Jika cari musuh, maka akan celaka. Jika suatu hari petugas tahanan menemukan dua orang napi sedang berkelahi, maka dua orang napi itu dimasukkan ke dalam sel tikus untuk waktu tertentu. Jika seorang napi berkelahi dikeroyok, maka napi yang dikeroyok itu yang dimasukan ke sel tikus (meskipun ia pada posisi pihak yang benar dalam suatu perkara yang ia ributkan). Sialnya, sel tikus itu ukurannya cuman satu kali satu meter. Selama berada di sel tersebut, penghuni sel ini tidak bisa keluar meskipun untuk buang hajat. Semua yang ia lakukan semuanya harus di dalam sel itu. BAB, makan, tidur dll dilakukan di dalam sel 1x1m itu. Tanpa air untuk bersih-bersih. Makan pun saya kira ia tak selera. Tidur entah bagaimana. Miris sekali.. Sering terdengar rintihan napi yang berada di sel tikus itu. Tapi apalah daya, Ridwan dan teman-teman lainnya tak bisa membantu.
Tukang Tato
Dalam penjara, Ridwan berteman satu sel dengan napi yang berprofesi tukang tato. Dengan alat tato sederhana dan seadanya, Ridwan pun ikut menjadi pasien tukang tato itu. Kalau saja petugas tahanan menemukan kegiatan ini, petugas akan menghukum si tukang tato itu dan menyita alat-alatnya. Proses bertato tersebut dilakukan sembunyi-sembunyi.
Tak Lupa Mengaji
Selama di dalam sel, Ridwan tak lupa mengaji alqur’an. Ia bercerita kalau ia khatam alquran sampai empat kali. Katanya itu untuk jaga-jaga mental. Banyak kejadian, ketika seorang napi yang tak lama lagi akan dibebaskan (keluar dari penjara), napi itu malah stress, terganggu psikisnya.
Bebas
Kini, Ridwan bebas dari penjara dengan damai. Ia bukan seorang buronan atau tahanan lagi. Selamat datang kembali brad!
Rabu, 18 Agustus 2010
Minggu, 11 Juli 2010
Tahukah saya?
Kumpulan kejadian2 yang saya alami yang bagi saya istimewa.
Saya disunat ketika berumur 4 bulan dan saya tidak ingat seperti apa rasa sakitnya disunat.
Waktu saya kelas 1 SD, ibu guru sedang serius menulis di papan tulis, tiba2 saya kentut, memecah keheningan. Ibu guru kaget, berbalik dan langsung mencari sang pelaku.
Kelas 6 SD, sedang asyik kerja kelompok dengan teman2. Niat hati ingin bercanda mengeluarkan kentut, tapi apalah daya, usus saya yang sedang tidak sehat membuat isinya tidak padat, hingga isinya yang cair itu ikut keluar terbawa kentut saya.
Masih di tahun yang sama, saya sempat tidak BAB selama 1 minggu, setelah itu saya BAB dengan lancar seperti biasa normal kembali yaitu 2 - 3 hari sekali.
Saya dapat menebak dengan tepat 5 kali berturut-turut dari 1 angka yang keluar dalam judi tebak angka, antara angka 1 – 10. Sayangnya dalam 5 tebakan itu saya tidak memasang taruhan. Namun ketika teman saya bertaruh untuk tebakan saya yang ke-6, saya ragu, dan akhirnya teman saya kehilangan 500 rupiahnya.
Ini juga waktu saya SD, saya menyukai seorang perempuan dan ternyata perempuan itu pun menyukai saya, namun kami saling diam dan tidak saling tahu, hingga saya mengetahuinya setelah ia menikah dengan orang lain.
Menginjak SMA, saya menyukai seorang perempuan dan perempuan itu menolak saya, padahal saya belum menyatakan perasaan suka saya kepada perempuan itu. Sekarang, ia telah berkeluarga sejak setahun yang lalu.
Saya meraih predikat mahasiswa baru tergaring, ketika masa ospek penyambutan mahasiswa baru di fakultas saya kuliah. Saya juga kurang tahu mengapa saya bisa mendapatkan predikat itu, terpilih diantara ratusan mahasiswa lainnya.
Selama perjalanan naik turun gunung Ciremai pada tahun 2007, saya buang air besar (mencret) sebanyak 10 kali. Sebagian banyak diantaranya saya lakukan di pinggir jalan setapak pada saat longmarch.
Saya belum pernah atau ngga pernah dirawat semalam pun di rumah sakit karena sakit.
Saya pernah menelan beberapa batu kerikil sebesar tablet dan saya telankan lagi beberapa butir berikutnya ke mulut ayam saya.
Mungkin itu saja yang saya ingat, mungkin sedikit jorok dan beberapa diantaranya mungkin mengenaskan. Semua kejadian itu membuat saya tersenyum sendiri jika mengingatnya.
Saya disunat ketika berumur 4 bulan dan saya tidak ingat seperti apa rasa sakitnya disunat.
Waktu saya kelas 1 SD, ibu guru sedang serius menulis di papan tulis, tiba2 saya kentut, memecah keheningan. Ibu guru kaget, berbalik dan langsung mencari sang pelaku.
Kelas 6 SD, sedang asyik kerja kelompok dengan teman2. Niat hati ingin bercanda mengeluarkan kentut, tapi apalah daya, usus saya yang sedang tidak sehat membuat isinya tidak padat, hingga isinya yang cair itu ikut keluar terbawa kentut saya.
Masih di tahun yang sama, saya sempat tidak BAB selama 1 minggu, setelah itu saya BAB dengan lancar seperti biasa normal kembali yaitu 2 - 3 hari sekali.
Saya dapat menebak dengan tepat 5 kali berturut-turut dari 1 angka yang keluar dalam judi tebak angka, antara angka 1 – 10. Sayangnya dalam 5 tebakan itu saya tidak memasang taruhan. Namun ketika teman saya bertaruh untuk tebakan saya yang ke-6, saya ragu, dan akhirnya teman saya kehilangan 500 rupiahnya.
Ini juga waktu saya SD, saya menyukai seorang perempuan dan ternyata perempuan itu pun menyukai saya, namun kami saling diam dan tidak saling tahu, hingga saya mengetahuinya setelah ia menikah dengan orang lain.
Menginjak SMA, saya menyukai seorang perempuan dan perempuan itu menolak saya, padahal saya belum menyatakan perasaan suka saya kepada perempuan itu. Sekarang, ia telah berkeluarga sejak setahun yang lalu.
Saya meraih predikat mahasiswa baru tergaring, ketika masa ospek penyambutan mahasiswa baru di fakultas saya kuliah. Saya juga kurang tahu mengapa saya bisa mendapatkan predikat itu, terpilih diantara ratusan mahasiswa lainnya.
Selama perjalanan naik turun gunung Ciremai pada tahun 2007, saya buang air besar (mencret) sebanyak 10 kali. Sebagian banyak diantaranya saya lakukan di pinggir jalan setapak pada saat longmarch.
Saya belum pernah atau ngga pernah dirawat semalam pun di rumah sakit karena sakit.
Saya pernah menelan beberapa batu kerikil sebesar tablet dan saya telankan lagi beberapa butir berikutnya ke mulut ayam saya.
Mungkin itu saja yang saya ingat, mungkin sedikit jorok dan beberapa diantaranya mungkin mengenaskan. Semua kejadian itu membuat saya tersenyum sendiri jika mengingatnya.
Rabu, 26 Mei 2010
Frances dan Natalie
Pada tanggal 5 April 1994, Kurt Cobain ditemui sudah dalam keadaan meninggal di rumahnya dengan tembakan senapan yang menembus langit-langit mulutnya. Di sampingnya ditemukan heroin dan sejenis obat penenang lainnya. Dari bukti yang ada disimpulkan peristiwa tragis yang menimpa grunge star tersebut merupakan murni bunuh diri.
Sebelumnya, pada tanggal 18 Agustus 1992, ketika Kurt berusia 25 tahun, ia dikaruniai seorang bayi cantik dari pernikahannya dengan Courtney, namanya Frances Bean. Sayang sekali, Frances ditinggalkan ayahnya ketika baru berumur 1,8 tahun.
Huh, nevermind..
Hampir mirip dengan Kurt, Ian Curtis yang hidup lebih dahulu dengan band punk new wave-nya, Joy Division, di akhir tahun 1970-an sampai tahun 1980, mengakhiri hidup dengan seutas tali di leher yang menggantungnya.
Seperti yang diceritakan di film biographinya - Control -, istrinya, Deborah, menemukan Ian sudah meninggal tergantung.
Seperti halnya Kurt, Ian juga meninggalkan seorang anak perempuannya, Natalie. Waktu Ian meninggal, Natalie baru berumur 5 tahun.
Dari kabar-kabar yang disiarkan media, baik Ian maupun Kurt, mereka sama-sama mengakhiri hidup karena tak kuasa dengan keadaan yang dihadapinya. Depresi- mungkin bisa dikatakan seperti itu (sori kalau salah..hehe).
Yang uniknya, anak mereka yang sama-sama perempuan, memiliki wajah mirip dengan ayahnya.
Hmmm, ketika saya memerhatikan foto Frances, seolah-olah melihat Kurt di dalamnya.
Begitu pula ketika melihat Natalie, disitu ada Ian..
Sebelumnya, pada tanggal 18 Agustus 1992, ketika Kurt berusia 25 tahun, ia dikaruniai seorang bayi cantik dari pernikahannya dengan Courtney, namanya Frances Bean. Sayang sekali, Frances ditinggalkan ayahnya ketika baru berumur 1,8 tahun.Huh, nevermind..
Hampir mirip dengan Kurt, Ian Curtis yang hidup lebih dahulu dengan band punk new wave-nya, Joy Division, di akhir tahun 1970-an sampai tahun 1980, mengakhiri hidup dengan seutas tali di leher yang menggantungnya.
Seperti yang diceritakan di film biographinya - Control -, istrinya, Deborah, menemukan Ian sudah meninggal tergantung.
Seperti halnya Kurt, Ian juga meninggalkan seorang anak perempuannya, Natalie. Waktu Ian meninggal, Natalie baru berumur 5 tahun.
Dari kabar-kabar yang disiarkan media, baik Ian maupun Kurt, mereka sama-sama mengakhiri hidup karena tak kuasa dengan keadaan yang dihadapinya. Depresi- mungkin bisa dikatakan seperti itu (sori kalau salah..hehe).
Yang uniknya, anak mereka yang sama-sama perempuan, memiliki wajah mirip dengan ayahnya.
Hmmm, ketika saya memerhatikan foto Frances, seolah-olah melihat Kurt di dalamnya.
Begitu pula ketika melihat Natalie, disitu ada Ian..
Minggu, 23 Mei 2010
sayur sop dan tempe goreng
akasia
---------------
jejakkan kaki seribu langkah terlewati
disini tak pernah ada penyesalan
setitik hitam pun tak berarti mati
kita tumbuh menerjang menerpa sisa usia
dimana bumi berputar disitu pula semangat membakar
diam bukanlah pilihan bergerak sayang harmonikan mimpi di hati
menjatuhkan air mata sudah tak pantas lagi
uban di kepala makin menjadi
sudahlah tak usah kau takuti
siapkanlah saja kita pasti kembali
jejakkan kaki seribu langkah terlewati
disini tak pernah ada penyesalan
setitik hitam pun tak berarti mati
kita tumbuh menerjang menerpa sisa usia
dimana bumi berputar disitu pula semangat membakar
diam bukanlah pilihan bergerak sayang harmonikan mimpi di hati
menjatuhkan air mata sudah tak pantas lagi
uban di kepala makin menjadi
sudahlah tak usah kau takuti
siapkanlah saja kita pasti kembali
tell a friend

you remember that time?
when we were walking and were holding hands
there is no fear because there is no fire
we just laughed without minds
you know my friend?
we made our time for nothing
forget these memories!
we will start new great stories
we can fill all the time
when the emptiness came to us down
there are times that we had lost
such as dust blown by the wind
you know my friend?
we made our time for nothing
so let them go
This would never again
will never happen again
you know my friend?
we made our time for nothing
forget these memories!
we will start new great stories
and you know my friend?
we don't get our time for good thing
so let them go
This would never again
will never happen again
Langganan:
Komentar (Atom)










