Label

Kamis, 19 Agustus 2010

Di Balik Jeruji Besi

Hari ini sudah dua bulan Ridwan –sepupu saya– keluar dari penjara. Dia dipenjara gara-gara mengeroyok musuh temennya. Si korban pengeroyokan itu tidak terima dengan pemukulan yang ia terima dan mengadukan perkara tersebut ke Pak Polisy. Tentu saja Pak Polisy dengan senang hati membantunya. Atas saran tokoh masyarakat yang kebetulan masih family juga, Ridwan dan tiga teman lainnya yang menjadi pelaku pengeroyokan menghilang menghindari Pak Polisy yang ingin menangkapnya.
Ridwan menjadi seorang buronan. Saat itu yang saya tau dia menetap di luar kota, meninggalkan kampung halaman dan family. Masa buronan berakhir setelah kira2 setahun lebih, hingga polisy menangkapnya. Saat itu polisy mengetahui jejaknya bahwa Ridwan berada di kampungnya, Ridwan pun ditangkap. Hap! Sebenarnya bisa saja Ridwan dibebas kasuskan, tapi tentu saja itu ada harganya. Alhasil, dikarenakan jumlah uang yang diserahkan ke Pak Polisy hanya setengah dari jumlah yang diminta, maka masa penahanan pun diberikan setengah dari masa penahanan tuntutan pengadilan.

Ospek

Ridwan berkisah tentang masa-masa ketika ia berada di penjara, sungguh menyeramkan, memprihatinkan, tapi ada juga lucunya. Seperti halnya di sebuah kampus yang mengadakan masa penerimaan Mahasiswa Baru, di penjara pun sama, ada sesi penerimaan Narapidana Baru. Diospek dulu oleh Narapidana Lama. Narapidana Baru diwawancara oleh Narapidana Lama (format wawancarannya tentu saja berbeda dengan wawancara ospek pelajar,yang ini lebih sangar). Saat ia pertama masuk penjara,Napi Lama menanyakan alasan kenapa ia sampai bisa masuk penjara, tak lupa dengan dibumbui pukulan-pukulan yang diterima sebagai ucapan selamat datang di rumah baru. Rumah berjeruji besi.
Setelah beberapa bulan menjadi tahanan maka Ridwan pun menjadi seorang Narapidana Lama. Ia mengospek napi baru sama ketika ia pertama masuk penjara itu. Berbagai alasan orang-orang dipenjara memang bermacam-macam. Yang lucu, ada yang masuk penjara hanya karena mencuri timbel. Ridwan yang bertanya dengan serius sambil muka marah merasa tidak percaya, merasa dibercandakan. Tapi akhirnya ternyata memang benar apa yang dijawab si napi baru itu. Napi baru itu bercerita, ketika itu ia sedang lapar di sawah, ia bertemu dengan orang yang punya timbel. Tapi karena timbelnya cuma ada satu, maka si orang yang punya timbel tidak memberinya. Hingga si yang mpunya timbel itu lengah, dicurilah timbel itu. Yang mpunya timbel merasa sakit hati dan melaporkannya ke polisi.

Ada lagi cerita lainnya, seorang polisy berseru di depan para napi lama “ada yang baru nih, ényé ényé..”. Enye itu maksudnya napi yang masuk penjara karena kasus perkosaan. Malang sekali nasib si Napi itu, dia diospek disuruh onani (di depan para napi lainnya). Walaupun menolak, pengospek tak akan merubah idenya. “Ari ka awewe bisa?!”. “Harus sampai keluar! “ kata salah seorang pengospek. Kira-kira ketika sedikit lagi mau keluar, sang burung napi tersebut diolesi balsem.

Sel Tikus

Nah ini dia yang sedikit menyeramkan. Kata Ridwan, jika kamu hidup dalam penjara, prinsipnya kamu harus cari teman. Jika cari musuh, maka akan celaka. Jika suatu hari petugas tahanan menemukan dua orang napi sedang berkelahi, maka dua orang napi itu dimasukkan ke dalam sel tikus untuk waktu tertentu. Jika seorang napi berkelahi dikeroyok, maka napi yang dikeroyok itu yang dimasukan ke sel tikus (meskipun ia pada posisi pihak yang benar dalam suatu perkara yang ia ributkan). Sialnya, sel tikus itu ukurannya cuman satu kali satu meter. Selama berada di sel tersebut, penghuni sel ini tidak bisa keluar meskipun untuk buang hajat. Semua yang ia lakukan semuanya harus di dalam sel itu. BAB, makan, tidur dll dilakukan di dalam sel 1x1m itu. Tanpa air untuk bersih-bersih. Makan pun saya kira ia tak selera. Tidur entah bagaimana. Miris sekali.. Sering terdengar rintihan napi yang berada di sel tikus itu. Tapi apalah daya, Ridwan dan teman-teman lainnya tak bisa membantu.

Tukang Tato

Dalam penjara, Ridwan berteman satu sel dengan napi yang berprofesi tukang tato. Dengan alat tato sederhana dan seadanya, Ridwan pun ikut menjadi pasien tukang tato itu. Kalau saja petugas tahanan menemukan kegiatan ini, petugas akan menghukum si tukang tato itu dan menyita alat-alatnya. Proses bertato tersebut dilakukan sembunyi-sembunyi.

Tak Lupa Mengaji

Selama di dalam sel, Ridwan tak lupa mengaji alqur’an. Ia bercerita kalau ia khatam alquran sampai empat kali. Katanya itu untuk jaga-jaga mental. Banyak kejadian, ketika seorang napi yang tak lama lagi akan dibebaskan (keluar dari penjara), napi itu malah stress, terganggu psikisnya.

Bebas

Kini, Ridwan bebas dari penjara dengan damai. Ia bukan seorang buronan atau tahanan lagi. Selamat datang kembali brad!

Rabu, 18 Agustus 2010

Mejeng









selalu ada kesempatan untuk mejeng di sela-sela jam kerja.. hhehehe
selamat bekerja!