Label

Jumat, 15 Oktober 2010

Kamis, 14 Oktober 2010

Beau Spéctacle II


Saya mungkin memang bukan orang  yang easy going buat diajak kemana-mana. Kadang saya menolak ajakan teman2 , sodara, atau siapapun jika diajak pergi, meski untuk sekedar jalan-jalan biasa. Saya akui ketika menolaknya, terjadi perang batin sebelum saya bisa mengungkapkan kalimat penolakan saya. Meskipun demikian, saya tetap easy going untuk memenuhi ajakan saya sendiri. Hehehe. Walaupun sedikit ragu untuk berangkat (bila tak bersama teman), namun pada akhirnya saya tetap berangkat walaupun sendiri. Tidak hanya sekali dua kali, mungkin sudah lebih dari lima kali saya pergi ke suatu tempat dengan melangkah sendiri. Furthermore, pergi bersama teman atau saudara tetap lebih nyaman dan ngga celingukan sendiri.
Semingguan yang lalu, di Gasibu Bandung ada sebuah panggung musik judulnya Gudang Garam Intermusic Java Rocking Land. Pengisi acaranya ada Arkarna, The Sigit dan lain-lain. Saya menyukai lagu-lagu Arkarna dan The Sigit, jadi saya pikir sayang kalau melewatkannya begitu saja.
Setiba di Gasibu, ternyata untuk masuk menonton ke dalam area itu tidak ditiket alias gratis. Alexa sedang tampil di panggung. Setelah Alexa, band berikutnya yaitu The Sigit, begitulah kata pembawa acaranya. Saya berkeliling-keliling barangkali ada yang kenal, tapi ternyata tak ada yang kenal. Kemudian saya melihat stan Digital Mural. Seperti membuat graffiti, tapi disini berbeda media, medianya sensor spray yang diarahkan ke sensitive screen.
Dua eteh-eteh penjaga stan itu (cantik-cantik dan seksi tentunya), menawari saya dan beberapa penonton yang lain yang melihat stan itu untuk ikut menggambar di situ, tapi syaratnya harus membeli satu bungkus rokok sponsor acara itu, kalau gak salah 8500 rupiah. Saat giliran saya mendaftar, dua penjaga stan itu; si eteh yang satu, menanyai nama, nomor telpon dan alamat dan si eteh yang satunya lagi memberikan saya rokoknya dan pertransaksian uang. Lucunya, belum saja saya memberikan uang saya, saya malah mau dikasih kembalian, sambil dia menawar “mas, ada uang 500 gak? “. Kebetulan saya gak punya, jadi saya jawab aja, gak ada. “Kalau begitu kembalian 500-nya buat saya aja ya?” katanya. Pikir saya, “eh kan saya belum kasih uangnya? Kok udah dikembalian?!”. Lalu mereka sibuk menghitung jumlah semua uang di tas dan ternyata memang saya belum memberikan uang. Hahaha, kami bertiga tertawa.
Lalu tibalah giliran saya untuk mencoba layar digital itu. Sulit sekali menggunakannya. Sensornya sangat sensitive, repot juga. Saya hanya coba-coba saja, toh mungkin ngga seminggu sekali bertemu yang seperti beginian. Saya spontan terpikir untuk menuliskan kalimat “rock in rehab”. Tapi sayang tidak diabadikan dengan tustel, tak punya tustel, henpon made in china saya pun mati karena lowbet. Tapi percayalah ini bukan hoax.hehehe.
Tak lama kemudian tibalah saatnya The Sigit naik panggung. Saya menyukai lagu-lagunya waktu pertama melihatnya di acara les voilà di CCF. Lagu-lagunya nge-crunch. Setelah beberapa tahun kemudian hingga saya melihat penampilan mereka kembali waktu di Gasibu seminggu yang lalu itu, lagu-lagu di album baru yang dibawakan pada malam itu lebih terdengar eksperimental, tapi tetap bernuansa rock. 
Setelah The Sigit, giliran Arkarna bernyanyi. Arkarna adalah band Inggris yang musiknya ke’techno-techno’an (menurut saya). Lagu pertama Arkarna yang saya dengar dulu judulnya So Little Time, sekitar tahun 2000-an. Saya tahu lagu itu dari kaset album Fresh Orange yang saya pinjam dari sepupu saya. Kata sepupu saya lagu So Little Time itu asik musiknya seperti bunyi helikopter. Setelah saya coba menyimaknya,  ternyata benar, nikmat sekali terdengarnya. Sambil tidur-tiduran di kamar, saya tutup pintu, jendela dan mata. Lagu diputar, sekencang-kencangnya. Saya nikmati beatnya. Ouww..serasa terbawa terbang bersama heli, padahal saya belum pernah naik helikopter.hahaha..
Penampilan Arkarna seminggu yang lalu adalah penampilan mereka yang ke-4 kalinya (kalau tak salah), entah itu jumlah tampil di Indonesia atau di Bandung, saya kurang tahu. Yang pasti itu pertama kalinya saya melihat Arkarna secara live. Vokalisnya, (kalau tak salah juga) namanya Ollie Jacob. Waktu dulu saya lihat di sampul album fresh orange, tampangnya agak kurus dan gondrong mirip orang India, tapi sekarang nampak lebih gemuk dan rambutnya tak begitu gondrong, hanya tetap masih ikal. Penampilannya di panggung dibuka dengan lagu Life Is Free. Lagu ini muncul kira-kira sekitar tahun 2002, kalau gak salah juga itu juga. Setelah lewat beberapa lagu berikutnya, terdengarlah lagu yang saya kenal lagi, Rehab (kalau gak salah sih itu judulnya). Saya gak begitu asing dengan irama lagu ini, jadi sedikit mengikuti walaupun gak hapal liriknya. Dari kesemua lagu yang dibawakan, saya hanya tahu tiga judul. Maklum saya gak pernah beli kasetnya, hanya dengar single-singlenya saja dari radio atau melihat video klipnya di TV.
Sayang sekali, suasana khidmat saya pada malam penampilan Arkarna itu terganggu oleh ulah bocah-bocah punkrock ingusan yang rusuh. Anehnya mereka rusuh dengan sesama mereka yang sama attitude. Saya yakin mereka (bocah-bocah itu) hanya punkrock-punkrock ikut-ikutan. Tanpa tahu apa dan bagaimana filosofi punk itu sendiri. Walaupun pada dasarnya semuanya memang ngikut. Yah setidaknya lah yang ngga kebawa sakaba-kaba.hehehe.. Sebelum insiden rusuhnya bocah-bocah itu, Ollie sempat bilang (dalam bahasa inggris) kalau dalam bahasa saya mungkin begini ”saya kagum dengan penonton sebelah sana (sambil menunjuk bocah-bocah itu), tapi tolong jangan sampai ada yang hal-hal yang tidak kita inginkan” begitulah kira-kira. Bocah-bocah itu berpogo ria mengacak-acak genangan air sisa hujan sore disekitar depan panggung.  Pogo yang lebay, pikir saya. Saya juga pogo, tapi ya sebisanya saya aja.heheh. Ketika mereka rusuh, polisi security menangkap beberapa diantara mereka, hampir semua pandangan penonton mengarah ke titik rusuh itu, tepat di samping saya kurang lebih tiga meteran. Saya cuek aja, sambil terus menikmati lagu-lagu yang dibawakan. Toh saya datang kesitu bukan untuk nonton yang rusuh, saya ingin nonton Arkarna. Kalau sudah begitu, mending pakai tiket saja untuk masuk ke acara itu, biar mereka (bocah-bocah punkrock itu) tak ikut masuk karena hanya mencemarkan nama Indonesia dan Bandung saja.
Lagu demi lagu terluapkan pada malam itu, sebelum mulai bernyanyi lagi, Ollie ngobrol-ngobrol lagi dengan penonton (saya kurang begitu mengerti yang dia ucapkan), tapi saya mendengar seperti dia bertanya “Kalian mau request lagu apa?”, saya langsung teriak “So Little Time!!”. Lagu itu belum dibawakan dari awal penampilan. Ternyata penonton yang lain pun sama berteriak seperti itu. Tak lama kemudian  lagu itu pun disetel. Aransemennya berbeda dengan versi kasetnya. Yah memang biasanya seperti itu, versi kaset dan versi live kadang berbeda. Walaupun demikian saya sangat menikmatinya. Ber-sing along ria, karena lagu ini yang paling akrab di telinga saya. Menjelang akhir lagu, tepuk tangan para penonton di atas kepala membuat saya terkagum. Itulah akhir penampilannya.
Penonton sedikit demi sedikit meninggalkan Gasibu. Saya masih berdiri sambil membersihkan sisa-sisa cipratan si bocah-bocah tadi yang mengotori celana saya. Di jalan belakang Gasibu, bocah-bocah punkrock itu menghentikan truk buat pulang. Saya pikir mending mereka ngamen di jalanan saja daripada datang ke acara konser hanya untuk bikin rusuh saja. Hmmm c’est le beau spéctacle..