Sore ini dan sore-sore kemarin
juga, benda cair itu berjatuhan dari ketinggian yang entah berapa meter
mengenai apa saja di bawahnya. Begitu lebat. Hujan yang besar sekali. Dan setelah
hujan mereda, jalanan tergenang banjir.
Sementara saya yang berkendara di
jalan sedikit gelisah, waktu tempuh menuju tujuan jadi melambat tak seperti
biasanya. Mencari jalan kesana kemari, celah-celah kecil pun dicoba barangkali
bisa mengantarkan terus ke depan sebisa mungkin. Saya yakin, manusia-manusia yang
menggigil dalam basah di jalan itu pun ingin segera sampai di mana mereka ingin
sampai.
Lalu mereka (air hujan itu)
bagaimana? Yang tergenang di jalan, yang tak disukai pemakai payung, bahkan mungkin
oleh badan yang tak memakai penolak hujan pun. Harus bagaimana hingga mereka (air-air
itu) terpaksa diam di jalanan, atau masuk
ke rumah-rumah penduduk?
Saya membayangkan, mungkin mereka
(air-air itu) juga ingin lekas pulang ke rumahnya, seperti halnya saya dan manusia lainnya di jalan yang tidak ingin terjebak
kemacetan.
Di atas genangan air yang
terjatuhi gerimis itu, mereka (air-air itu) seolah-olah berbicara, bahwasanya mereka
(air-air itu) ingin bekerjasama dengan saya dan manusia lainnya: bagaimana caranya
agar mereka (air-air itu) dan manusia bisa sampai ke rumahnya masing-masing
dengan lancar dengan tak perlu saling hadang di jalan?
Dilihat dari gerak-geriknya, mereka
(air-air itu) patuh pada gravitasi juga. Mencari tanah yang rendah untuk
mengantarkan mereka (air-air itu) ke tempat seharusnya, seperti seseorang dalam
perjalanan yang mencari jalan untuk lekas sampai tujuan. Tinggal bagaimana
caranya, manusia-lah yang membuatkan jalan untuk mereka (air-air itu). Atau kalau
tidak, kita harus berbagi ruang dengan mereka (air-air itu) dalam sudut-sudut
kamar, halaman dan jalanan. Sepertinya begitu.
Saya sadar, papan peringatan
-jangan buang sampah sembarangan- yang di pampang di halaman sekolah waktu SD bukanlah
sebuah hiasan. Tetapi mungkin terkadang saya lupa dan tak banyak pula yang
mengingat itu sampai dewasa. Khawatirnya, apatis sederhana dari seorang manusia
ini akan menjadi apatis besar-besaran ketika terjadi dalam jumlah manusia yang banyak.
Lalu air menggenang sehalaman rumah pun bisa menjadi selebar kota besar.



























