![]() |
| Bandung, Jum'ah 08/11/13 |
Jumat, 08 November 2013
Rabu, 06 November 2013
Converse All Star
Converse All Star. Sungguh saya
suka sekali pada sepatu merk ini, dari dulu hingga kini modelnya asik-asik.
Beberapa inovasi pada warna dan bahan memang terjadi. Akan tetapi buat saya model
yang klasik tetap yang paling oke. Menurut saya, Converse ini adalah sepatu
segala jaman, tidak membosankan.
Waktu SMA, saya sempat punya
-Converse warna biru langit- yang saya dapat dari anaknya ibu Suangga, namanya
Dadan. Saya memanggilnya ‘A Dadan’. Oh ya, Ibu Suangga adalah ibu kost saya
waktu SMA. Kosannya terletak di jalan DI Panjaitan no.12 kelurahan Soklat
Subang, posisi kosan saya itu tepat di depan gedung kelurahan Soklat. A Dadan punya
sebuah toko kecil di samping kosan. Balik lagi soal sepatu tadi, sepatu converse
biru langit itu bekas a Dadan pakai sewaktu ia SMA (sekitar awal tahun 90-an).
Sepatu itu masih ia simpan hingga akhirnya jatuh ke kaki saya pada tahun 2002,
waktu saya kelas 3 SMA. Mahar yang saya berikan untuk sepatu itu 25 ribu
rupiah. Saya suka sekali memakai sepatu itu ke sekolah, sedikit bertolak
belakang dengan peraturan sekolah yang melarang siswanya memakai sepatu selain
warna hitam. Sepatu itu bertahan di kaki saya sampai sekitar tahun 2004 ketika
menginjak masa kuliah tingkat satu di UPI Bandung. Wawa (Ridwan Taufik), teman
kosan saya, meminjam sepatu saya itu untuk berangkat ke Dayeuhkolot, rumah
kakaknya. Namun tiba-tiba musibah terjadi, rumah kakaknya itu kebanjiran,
sepatu saya pun hanyut sebelah. Sebelahnya lagi selamat namun dengan kondisi kotor
berlumpur. Usailah Converse biru saya itu dari kehidupan saya. hehehhe.
Selain Converse biru, pada masa
awal-awal kuliah saya pun sempat memakai Converse warna hitam pendek (bagian mata
kaki terbuka), namun umurnya tak lama. Mungkin karena saya sering memakainya
jalan-jalan ke hutan, menginjak berbagai medan; batu, lumpur, basah dan
sebagainya. Hingga jebol mirip mulut buaya yang menganga.
Di lain hal, selain sepatu
Converse yang familiar di masa itu, tidak sedikit juga orang-orang yang memakai
sepatu Vans. Laki-laki atau perempuan banyak terlihat dengan sepatu Vans. Saya
pun ikut mainstream, sempat dua kali memakai sepatu Vans. Namun itu tak lama
juga, karena sepatu Vans yang pertama hilang di mesjid Alfurqon, dan yang kedua
hilang di gedung pentagon. Sedih memang. Tapi ya mungkin memang bukan jodoh,
atau saya yang teledor.
Awal tahun 2012 saya bersama
seorang teman, Sobirin, main ke Taman Puring Jakarta dengan berbekal uang 100 ribu
kepunyaan teman saya itu. Saya menemukan sepatu Converse Hitam berbahan lapis
kilap, entah apa jenis bahan itu, yang jelas saya tertarik dan kemudian saya
membelinya. Namun di awal tahun 2013 saya mengalami kecelakaan jatuh dari motor.
Motor vespa yang saya kendarai ini oleng setelah dengan kecepatan tinggi
menggilas aspal berlubang di jalan Bypass Sukarno-Hatta Bandung. Saya tergelincir.
Beberapa bagian tubuh luka dan membuat sepatu yang saya kenakan yakni sepatu
Converse putih hitam ini robek di bagian depannya. Untung jari kaki saya tidak
luka. Hanya memar di lutut dan tangan. Bagian pantat saya terselamatkan oleh
dompet yang mengganjal, namun celana saya di bagian pantat dan bagian lututnya robek.
Saya sempat berputar-putar menggelinding ketika badan saya lepas dari motor, namun
tidak begitu jauh, mungkin karena tertahan oleh gitar yang digendong di
punggung saya. Alhamdulillah-nya lagi helm saya dadas, tidak kepala saya. Setelah badan saya yang tergelincir
terhenti, saya langsung bangun menghampiri motor saya yang sudah tergeletak kira-kira
10 meter di depan saya. Kemudian saya menepikan motor saya ke pinggir jalan dengan
bantuan seorang Bapak-bapak dan seorang pengendara lain yang kemudian saya
ketahui nama mereka adalah Pak Agus dan Pipih. Saya mencoba menyalakan mesin
motor saya itu, ia masih bisa nyala. Tapi ternyata stang-nya patah dan gas-nya
tidak bisa diputar, motor tidak bisa jalan. Lalu akhirnya saya menitipkan motor
saya di rumah Pak Agus yang kebetulan rumahnya tidak jauh dari tempat saya
jatuh. Setelah beberapa obrolan diketahui Pak Agus adalah seorang aktivis ormas
BBC (Buah Batu Corps). Malam itu pukul 22.30 WIB adalah pengalaman jatuh dari
motor saya yang pertama dan semoga menjadi yang terakhir. Biarkan saya
mengalami momen istimewa itu sekali saja seumur hidup. Hehehe. Dengan sedikit
menahan sakit di badan, saya diantar pulang oleh Pipih yang ternyata akan
menuju ke Margahayu juga, saya diantar sampai rumah.
| Sepatu Converse Sisa Jatuh dari Motor |
Setelah sedih-sedihan dan luka-luka sedikit,
sekarang kita senang-senang. Pada masa-masa akhir kuliah, saya bercita-cita
melangkah dengan Converse lagi, spesifiknya, sepatu Converse hitam. Sebelumnya
saya belum pernah punya Converse yang warna hitam, meski teman-teman SMA dulu banyak
yang memakainya. Sampai Dosen bahasa Prancis saya -Mr. Cyril Durrafour- pun
pernah memakai sepatu Converse hitam ini. Saya sempat beranggapan kalau
Converse warna hitam adalah sepatunya orang-orang dewasa yang berwibawa. Hahahha.
Mungkin bersepatu Converse hitam ini bisa menjadi motivasi yang bawaannya bisa
berfikir secara dewasa dan matang dalam menghadapi segala persoalan. Itu argument
saya saja, hehe. Setelah saya lulus kuliah Desember 2009, saya hijrah ke
Cirebon, menetap selama setahun bekerja di Pembangunan Flyover Gebang Cirebon. Pada
sore hari yang lapar, di bulan ramadhan dengan cuaca panasnya Cirebon, saya
bersama seorang teman ngabuburit ke pasar, entah pasar apa saya lupa namanya.
Secara tidak sengaja saya dipertemukan dengan Converse hitam yang nangkring di
atas rak toko sebuah toko sepatu. Tiba-tiba saya teringat cita-cita saya
sewaktu kuliah yang ingin punya sepatu Converse hitam. Saya jadi semakin serius
mendekati sepatu itu, lalu terjadilah tanya jawab harga dengan penjual sepatu,
entah berapa harga jadinya saya lupa. Dengan rasa gembira saya pulang dengan
menenteng sepatu baru. Horee! Saya kegirangan. Hahaha. Sepatu Converse hitam
ini saya pakai setiap hari kerja atau mudik ke rumah. Hingga saat saya membuat
tulisan ini, saya masih memakainya. Perlu diketahui atau tidak, saya mencuci
sepatu Converse hitam ini baru tiga kali (setelah kurang lebih 3 tahun). Walaupun
begitu ia tidak begitu bau kok, kalau tidak percaya, cium saja sendiri.
Hehehhe. Oya, asyiknya lagi sepatu ini sempat menemani saya pada longgarnya
pasir di jalan menuju puncak Mahameru pada bulan Mei 2012.
| di Mahameru dengan Converse Hitam |
Langganan:
Komentar (Atom)

