Label

Senin, 09 Desember 2013

Nyanyian Kodok untuk Mereka (Air-air itu)



Sore ini dan sore-sore kemarin juga, benda cair itu berjatuhan dari ketinggian yang entah berapa meter mengenai apa saja di bawahnya. Begitu lebat. Hujan yang besar sekali. Dan setelah hujan mereda, jalanan tergenang banjir. 

Sementara saya yang berkendara di jalan sedikit gelisah, waktu tempuh menuju tujuan jadi melambat tak seperti biasanya. Mencari jalan kesana kemari, celah-celah kecil pun dicoba barangkali bisa mengantarkan terus ke depan sebisa mungkin. Saya yakin, manusia-manusia yang menggigil dalam basah di jalan itu pun ingin segera sampai di mana mereka ingin sampai. 

Lalu mereka (air hujan itu) bagaimana? Yang tergenang di jalan, yang tak disukai pemakai payung, bahkan mungkin oleh badan yang tak memakai penolak hujan pun. Harus bagaimana hingga mereka (air-air itu)  terpaksa diam di jalanan, atau masuk ke rumah-rumah penduduk? 

Saya membayangkan, mungkin mereka (air-air itu) juga ingin lekas pulang ke rumahnya, seperti halnya saya  dan manusia lainnya di jalan yang tidak ingin terjebak kemacetan. 

Di atas genangan air yang terjatuhi gerimis itu, mereka (air-air itu) seolah-olah berbicara, bahwasanya mereka (air-air itu) ingin bekerjasama dengan saya dan manusia lainnya: bagaimana caranya agar mereka (air-air itu) dan manusia bisa sampai ke rumahnya masing-masing dengan lancar dengan tak perlu saling hadang di jalan? 

Dilihat dari gerak-geriknya, mereka (air-air itu) patuh pada gravitasi juga. Mencari tanah yang rendah untuk mengantarkan mereka (air-air itu) ke tempat seharusnya, seperti seseorang dalam perjalanan yang mencari jalan untuk lekas sampai tujuan. Tinggal bagaimana caranya, manusia-lah yang membuatkan jalan untuk mereka (air-air itu). Atau kalau tidak, kita harus berbagi ruang dengan mereka (air-air itu) dalam sudut-sudut kamar, halaman dan jalanan. Sepertinya begitu. 

Saya sadar, papan peringatan -jangan buang sampah sembarangan- yang di pampang di halaman sekolah waktu SD bukanlah sebuah hiasan. Tetapi mungkin terkadang saya lupa dan tak banyak pula yang mengingat itu sampai dewasa. Khawatirnya, apatis sederhana dari seorang manusia ini akan menjadi apatis besar-besaran ketika terjadi dalam jumlah manusia yang banyak. Lalu air menggenang sehalaman rumah pun bisa menjadi selebar kota besar. 

Mereka (air-air itu) adalah sumber kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya, termasuk kodok yang bernyanyi senang menyambut hujan.

Selasa, 03 Desember 2013