Dulu, sekitar kelas 1 atau kelas
2 SD, ayahku memberiku sebuah jam tangan. Jam tangan dengan tampilan angka digital.
Pada jam itu, ada bagian kepala-tangan-kakinya kalau dibuka lipatannya. Semacam
transformer gitu kalau di film, bisa berubah menjadi robot-robotan.
Aku langsung memakaikan jam
tanganku itu di tangan kanan. Meski ayahku sempat menyarankan kalau memakai jam
tangan itu di tangan kiri, tetapi aku tetap memakainya di tangan kanan. Aku ingin
beda. Berbeda dengan teman-temanku dan orang lain pada waktu itu di daerahku
yang lazimnya memakai jam tangan di pergelangan tangan kiri. Dengan begitu, aku
merasa keren karena lain dengan yang lain. Hehehe. Karena waktu itu aku masih
kecil, mungkin aku memakai jam tangan bukan untuk kebutuhan melihat waktu jam
berapa, tetapi lebih ke hal suka-sukaan.
Masa sekolah dasar telah
terlewati, hingga aku sampai di bangku SMP, aku masih memakai jam tangan di
tangan kanan. Pada masa ini, aku tidak memerhatikan kekerenan memakai jam
tangan harus di tangan kanan atau tangan kiri, tetapi karena aku sudah terbiasa
di tangan kanan, jadi aku masih memakai jam tangan di tangan kanan.
Pagi hari, di kamarku, sebelum berangkat
ke sekolah, aku selalu mendengarkan ceramah KH. Zainuddin MZ yang diputar di
radio Kharisma FM (kalau gak salah sih itu nama stasiun radionya, yang pemancar
radionya itu di Ciater). Di tengah ceramahnya, Dai Sejuta Umat itu kira-kira berkisah
begini:
“Hei Tangan
Kanan, kamu enak ya, kamu itu bagian megang apa-apa yang bagus-bagus, buat
makan, ngasih barang ke orang, yang enak-enak semua sama kamu. Giliran cebok
sehabis buang hajat, bagianku. Sungguh tidak adil!” Keluh Tangan Kiri.
“Tenang saja,
nanti kalau majikan kita punya jam tangan, ia akan memakaikannya di kamu, wahai
Tangan Kiri.” Jawab Tangan Kanan.
Semenjak aku mendengar kisah KH.
Zainuddin MZ tentang jam tangan itu aku langsung memakai jam tangan di tangan
kiri. Aku berangkat ke sekolah dengan sensasi baru di tangan kiriku.