Label

Jumat, 27 Desember 2019

Thermometer

Pagi tadi, saya mendapat musibah. Kami baru bangun tidur. Saya masih rebahan di kasur. Di samping saya, anak saya sedang bermain thermometer. Kami bermain dokter-dokteran. 

Anak saya berumur tiga tahun. Awalnya ia selip-selipkan thermometernya ke ketiak saya. Namun saat pandangan saya lepas darinya, tiba-tiba tangan kecilnya iseng. Ujung thermometer itu masuk ke telinga saya. Saya kaget. Telinga saya kesakitan. Saya tak tahu harus bagaimana mengobatinya. Saya hanya mengaduh sakit dan sedikit cemas dan juga takut. 

Dengan berbekal kartu BPJS, saya pergi ke klinik tempat biasa saya berobat. Dokter di klinik tersebut menanyakan kronologis kejadiannya sebelum akhirnya memeriksa telinga saya. 

Sebuah senter kecil ditodongkan ke dalam telinga saya dan sang dokter pun mulai mengintip. Ia berkata, ada darah di dalam telinga saya. Kemungkinan ada luka pada bagian dalam telinga. 

Namun sang dokter tidak bisa mengambil tindakan lebih jauh. Mungkin karena ia seorang dokter umum dengan peralatan yang terbatas. Ia menyarankan agar saya pergi menemui dokter THT. Ia membekali saya surat rujukan yang ditujukan ke dokter THT di rumah sakit. 

Sang dokter menyebutkan beberapa pilihan rumah sakit yang bisa dituju. Dokter itu membebaskan saya untuk memilih rumah sakit mana yang dituju. Saya memilih rumah sakit yang terdekat dari klinik itu. Rumah Sakit Santo Yusup. 

Sementara surat rujukan itu dibuatkan oleh petugas klinik, saya menunggu di kursi tunggu. Tak lama kemudian istri saya datang. Sebelumnya memang ia sudah me-whatsapp saya kalau dia mau datang. Ia mau mengantar saya ke rumah sakit. 

Setelah tiba di RS Santo Yusup, di parkiran motor ada seorang ibu yang memberi tahu kalau dokternya tidak ada, libur natal katanya. Betul memang, RS Santo Yusup adalah sebuah rumah sakit yang berlatar belakang Kristen. Namun kami tetap melanjutkan langkah kaki menuju pintu masuk rumah sakit untuk memastikan keadaan yang sesungguhnya. 

Di depan pintu masuk kami menemui meja kecil security. Security itu menginformasikan bahwa semua dokter sedang libur Natal. Buka lagi lusa. Hari ini adalah H-1 sebelum Hari Natal dan merupakan hari libur cuti bersama.

Kami tak patah semangat. Lalu kami balik lagi ke klinik meminta surat rujukan pengganti RS tujuan. Kami menginginkan rumah sakit yang lain. Kemudian kami mencoba ke sebuah rumah sakit yang ada di Jl. Pasteur. Jalan menuju rumah sakit Pasteur melewati tempat tinggal kami di daerah Jl. Suci. Kami bisa mampir dulu ke rumah untuk sarapan dan persiapan lainnya. 

Setelah surat pengantar rujukan dan dokumen-dokumen lainnya telah siap, kami langsung tancap gas menuju Pasteur. Di rumah sakit ini kami langsung menemui security di bagian pintu depan rumah sakit. Ia menginformasikan bahwa ada dokter yang bertugas namun security itu tidak mengetahui ada atau tidaknya dokter tesebut. Untuk memastikannya kami diarahkan agar menuju bagian pendaftaran pasien BPJS di lantai 2. 

Sesampainya di lantai 2, kami menemui security yang bertugas di bagian pendaftaran itu. Ia duduk di dekat mesin nomor antrian. Sesuai arahan security itu, saya mengambil nomor antrian dan mengisi formulir pasien. Setelah kurang lebih menunggu 10 nomor antrian, saya dipanggil petugas pendaftaran. Saya menceritakan kronologis kejadian dan keluhan saya. Petugas itu menyampaikan bahwa dokter THT pada saat ini sedang libur dan akan membuka kembali praktek pada hari senin (saat ini hari selasa). 

Merasa akan cukup lama menunggu sampai hampir seminggu, kami balik lagi ke klinik awal saya berobat dan meminta tujuan rumah sakit yang lain lagi. Awalnya petugas di klinik itu sempat menolak karena sudah dua kali permohonan perubahan surat rujukan. Tetapi ia mengurungkan penolakannya, mungkin ia merasa iba. Saya hanya berpikir, ya siapa tahu masih ada dokter THT lain yang hari ini bertugas di rumah sakitnya. 

Selanjutnya kami memilih sebuah rumah sakit di daerah Arcamanik. Setelah memasuki halaman rumah sakit ini saya langsung menuju basement untuk memarkirkan sepeda motor. Kami melewati sebuah tempat seperti ruang tunggu dengan dinding setengah terbuka. Ruang tunggu antrian. Di situ banyak orang-orang duduk di kursi. 

Setelah memarkirkan motor kami berjalan kaki menuju tangga ke atas untuk menuju bagian resepsionis. Namun belum sampai di tangga, kami penasaran dengan ruang tunggu setengah terbuka yang tadi dilewati itu. Kami menghampiri tempat antrian atau ruang tunggu itu. Posisi ruang tunggu itu berdekatan dengan area parkir, yakni di basement bagian depan. 

Di bagian antrian ruang tunggu ini, kami tidak melihat keberadaan security. Namun di situ kami melihat mesin tombol antrian dan meja berisi lembar formulir. Berdasarkan pengalaman sebelumnya di rumah sakit Pasteur, kami berinisiatif sendiri untuk mengambil kartu antrian dan mengisi formulir pendaftaran. Antrian yang didapat kurang lebih menunggu 10 nomor lagi. Sama seperti banyaknya nomor antrian di rumah sakit Pasteur. 

Setelah beberapa waktu berlalu nampak seorang security datang mendekati meja formulir namun tak sampai satu menit ia pergi lagi. Rupanya security itu bertugas satu lantai di atas. Atau entah ia bertugas di ruang tunggu ini juga, kami tidak tahu. Istri saya sempat bertanya ke security tersebut kalau mau ke dokter THT mengambil antrian apa, katanya ambil antrian “pasien baru”. Lalu kami menekan tombol kartu antrian “pasien baru”. Di situ, insiatif awal kami yang mengambil antrian “konsultasi dokter” ternyata salah. 

Kami tetap duduk di kursi tunggu yang tersedia. Kursi di ruang tunggu itu hampir terisi semua oleh pasien-pasien yang sedang menunggu panggilan. Dengan berbekal pengamatan sekitar, kami bisa tahu posisi ruangan petugas bagian pendaftaran yakni berada di seberang jalan. Jalan arah keluarnya kendaraan dari basement itu. 

Setelah nomor antrian saya terdengar di pengeras suara, kami menuju ruangan di seberang jalan itu. Di ruangan itu, seperti sebelumnya, saya menceritakan kronologisnya. Petugas kemudian berkata bahwa dokter THT sedang cuti dan masuk lagi hari kamis (lusa). Lalu saya menanyakan apakah bisa dilakukan tindakan sementara untuk pemeriksaan telinga saya.  Maksudnya agar ada sebuah hasil karena sudah menunggu antrian yang lumayan lama. Saya ingin mengetahui separah apa atau seperti apa luka telinga yang saya alami ini. 

Sang petugas berkata bahwa pemeriksaan tidak bisa dilakukan karena dokter yang bertugas tidak hadir. Kemudian saya bertanya bagaimana jika dengan penanganan IGD? Petugas itu menjawab bahwa IGD itu untuk menangani pasien yang kritis dan mendesak saja dan jika nanti hasil pemeriksaan di IGD tidak masuk kategori mendesak maka nanti pasien akan diarahkan lagi ke bagian poli atau dokter THT dan akhirnya balik lagi (ke tempat pendaftaran itu). 

Kami penasaran dan mencoba untuk mendatangi bagian IGD di satu lantai di atas. Di bagian security kami bertanya dan ia mengarahkan agar mengambil nomor antrian. Namun tak menunggu lama nomor antrian saya dipanggil dan kami langsung masuk ke ruang IGD. Di ruang ini kami menceritakan maksud kedatangan kami dengan segala keluhannya, namun respon yang didapat tidak begitu menggairahkan. 

Petugas di ruang IGD itu memberitahu agar saya melakukan pendaftaran IGD terlebih dahulu di bagian pendaftaran IGD. Petugas IGD itu pun mengungkapkan bahwa nanti setelah melakukan pendaftaran agar menunggu dulu bed yang kosong karena pada saat itu bed di IGD telah penuh. Selain itu, ia mengungkapkan kalau pemeriksaan pun kemungkinan akan dilakukan seadanya saja karena peralatan yang ada untuk THT tidak lengkap. 

Mendengar penjelasan petugas IGD tadi membuat kami sedikit lesu. Maka kami pun tidak melakukan pendaftaran IGD seperti yang disarankan petugas tadi. Kami langsung menuju rumah sakit di Ujungberung. Rumah sakit milik pemerintah yang mungkin bisa membantu. Kami pikir itu adalah usaha terakhir untuk penanganan luka telinga saya ini. 

Kami langsung menuju rumah sakit Ujungberung. Sesampainya di rumah sakit ini kami langsung menemui security dan ia berkata bahwa dokter THT sedang libur cuti bersama dan masuk lagi hari kamis (lusa). Lalu kami menanyakan pelayanan di IGD itu seperti apa, apakah bisa memberi penanganan atau tidak. Sang security itu tidak begitu yakin dan ia mengarahkan kami untuk langsung menuju ruang IGD. 

Di ruang IGD, terlihat petugas yang duduk di sana dengan seorang perawat. Mereka langsung menanyakan keluhan saya dan memeriksa telinga saya dengan peralatan yang ada. Petugas IGD itu berkata bahwa terdapat luka di dalam telinga saya dan memerlukan penanganan dokter THT. Menurutnya, di IGD ini tidak ada peralatan lengkap seperti yang ada pada dokter THT. Di bagian IGD hanya untuk penanganan yang mendesak. Seperti luka pada telinga yang mengeluarkan darah terus menerus dengan tingkatan luka yang mungkin lebih parah. 

Ia menyarankan agar saat ini saya diistirahatkan saja dan datang lagi pada hari kamis untuk menemui dokter THT. Setelah mendapat  pemeriksaan dan penjelasan dari petugas atau dokter di IGD tersebut kami merasa cukup lega meski luka belum dapat terobati. Akhirnya kami pulang. 

Berdasarkan pengalaman menemui petugas kesehatan di beberapa rumah sakit dari pagi hingga siang tadi, saya menyimpulkan bahwa prosedur semua rumah sakit itu sama, yang membedakan adalah bentuk pelayanan dari petugas rumah sakitnya. Pelayanan berupa cara penyampaian informasi dan cara menghadapi atau menangani pasien yang datang kepadanya. 

Menurut saya, petugas kesehatan itu, jika memang tidak bisa membantu mengobati, setidaknya mereka bisa memberikan rasa tenang dengan keramahan dan kepeduliannya terhadap pasien, seberapa pun ia letih karena telah beberapa jam bertugas. Tetapi saya tetap berterima kasih kepada mereka dari mulai petugas di klinik, rumah sakit hingga security yang bertugas menerima dan membantu perjalanan siang tadi. 

Untuk teman-teman dan juga keluarga saya, jika suatu waktu kita berpapasan di jalan dan saya tidak menoleh kala dipanggil, mungkin itu karena telinga kanan saya sedang tidak berfungsi dengan baik. Mudah-mudahan besok atau lusa masih ada kesempatan agar telinga kanan ini bisa sembuh lagi. Amin.

Sekian. 

Bandung, 24 Desember 2019.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar