Label

Minggu, 18 Juli 2021

Dosen Pembimbing

Malam kemarin saya bermimpi bertemu dengan seorang dosen. Beliau adalah dosen pembimbing saya sewaktu kuliah di kampus UPI dulu. Mimpi mungkin bukanlah sebuah pertanda, tetapi mimpi mengingatkan kita pada sesuatu hal. 

Pagi harinya, saat terbangun, memori saya langsung teringat pada momen di suatu pagi yang telah lebih dari sepuluh tahun lalu:

Pagi itu, telepon genggam berbunyi, saya terbangun karena suaranya. Saya lihat sebuah nada panggilan dari dosen pembimbing saya. Saya angkat panggilannya, “Gin, kamu mau penelitian ke kelas menulis kan? Ayo sekarang! Ini saya lagi ada kelas mahasiswa tingkat satu. Sini ya!” kata beliau.

Saya langsung menyiapkan diri. Buku-buku dan lembar bahan penelitian saya masukkan ke dalam tas. Saya berangkat dengan bersemangat. 

Saat itu saya tengah menyusun skripsi tentang metode kolaborasi dalam sebuah kelas menulis.

Tiba di kelas, saya dipersilakan masuk dan duduk bersama mahasiswa di kursi barisan belakang. Di kelas itu, saya memperhatikan situasi belajar di kelas dan lalu membagikan semacam kuesioner untuk diisi oleh mahasiswa di kelas itu.

Singkat cerita, skripsi saya terselesaikan tak begitu lama. Alhamdulillah, saya pun lulus.

Sepuluh tahun berlalu, tahun kemarin, saya datang kembali ke kampus, ke kantor jurusan, ada perlu. Di sana tak ada siapa-siapa. Sepertinya dosen-dosen sedang mengajar di kelas. Saya lihat di ruang petugas administrasi juga tidak ada orang, dulu biasanya ada Pak Udin di sana.

Saya duduk di kursi tunggu yang ada di depan kantor jurusan, menunggu dan bersiap kepada siapa pun yang saya temui.

Tidak lama kemudian, datang seorang dosen. Dari kejauhan saya bisa mengenalinya. Ya, beliau adalah dosen pembimbing saya. Saya ragu kalau ia masih mengenali saya. Tetapi rupanya tidak. Ia memanggil saya. 

“Gin, apa kabar?” Saya menghampirinya. Saya dipersilakan masuk ke ruangan kerja beliau dan kami mengobrol sedikit tentang kabar.


Malam ini, beberapa menit yang lalu, saya membaca sebuah pesan di grup whatsapp berupa kabar duka. Kabar duka itu bercerita bahwa Monsieur Riswanda -dosen pembimbing saya- telah berpulang. 

Doa-doa kami terpanjat untuk beliau. Selamat jalan Monsieur, saya yakin bahwa kebaikan Bapak kepada saya menjadi salah satu amalan besar dari banyaknya ilmu yang terus mengalir kepada mahasiswa-mahasiswa yang Bapak bimbing. 

Terima kasih Monsieur, sampai jumpa kembali.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar