aku tak tau ada apa di jalan Tol Jagorawi
ku kira kini ia akan jadi jalan favoritku
sebab kamu ada di sana sehabis jalan tol itu
sambutlah aku yang bergerak bersama cinta yang kubawa
dari sebelum masuk tol Cikampek-Jakarta
Ujungberung, 29 Oktober 2014
Rabu, 29 Oktober 2014
Lismita Maya binti Ahmad Hidayat Nasution
pada malam dua desember dua ribu enam
percikan meteor jatuh di antara Bogor dan Subang
melubang ke dalam bumi dan mempertemukan dinding-dinding hati kita
gravitasi dasar bumi menjadi ada padamu
aku terjatuh di hatimu
Jumat, 22 Agustus 2014
Tugas utamanya adalah merajut
Kota Teduh - Kota Teduh
Waktu itu ada. Terasa tanpa bantuan indera. Jika saat ini kalian berbahagia, maka waktu itulah yang sedang kalian cerna.
Ketika waktu kau hitung ulang, lama dan panjang kalian merenda. Beberapa bagian sempurna, beberapa yang lain alpa. Tapi tak peduli bagaimana, kalian terus duduk dan mengisi satu sama lain. Saling memberi jarum, saling menarik gulungan benang. Ada rupa, rasa dan kata. Lalu perlahan menjelma.
Pertunangan adalah hasil kerja keras kalian dalam mengisi dan mengerti. Ada luka bekas di jari karena tertusuk tajamnya jarum. Ingatlah, ia tak bermaksud menyakiti. Tugas utamanya merajut, bukan untuk melukai. Dan nilai sesuatu tak boleh berganti hanya karena ia tak sengaja berperan pada hal yang bukan tujuan pembuatannya.
Kini kalian sudah berhasil merangkai kain. Helai demi helai benang. Dan terima kasih waktu. Kelak, dan hanya tinggal menambah hiasan, kain itu akan kalian tudungkan pada kedua kepala kalian dalam balutan afeksi dan kognisi, membungkus kalian dengan simpul janji abadi. Menghangat pada dingin dan meneduhkan dari gusar.
Nanti, di kota teduh yang sama, waktu itu akan tiba.
Selamat berbahagia.
Saya beruntung berada di tempat dan waktu yang tepat untuk bisa mengenal kalian.
Maaf datang terlambat.
Senin, 18 Agustus 2014
ditulis oleh wafi, dikirim via wasap malam-malam agak dini hari dan saya bacanya pagi. pas baca udah keburu dingin.. haha. thanks berat bro, sudah datang. lalu tentulah bahagia. terima kasih sekali pisan. semoga begitu kiranya. amiiin..
Waktu itu ada. Terasa tanpa bantuan indera. Jika saat ini kalian berbahagia, maka waktu itulah yang sedang kalian cerna.
Ketika waktu kau hitung ulang, lama dan panjang kalian merenda. Beberapa bagian sempurna, beberapa yang lain alpa. Tapi tak peduli bagaimana, kalian terus duduk dan mengisi satu sama lain. Saling memberi jarum, saling menarik gulungan benang. Ada rupa, rasa dan kata. Lalu perlahan menjelma.
Pertunangan adalah hasil kerja keras kalian dalam mengisi dan mengerti. Ada luka bekas di jari karena tertusuk tajamnya jarum. Ingatlah, ia tak bermaksud menyakiti. Tugas utamanya merajut, bukan untuk melukai. Dan nilai sesuatu tak boleh berganti hanya karena ia tak sengaja berperan pada hal yang bukan tujuan pembuatannya.
Kini kalian sudah berhasil merangkai kain. Helai demi helai benang. Dan terima kasih waktu. Kelak, dan hanya tinggal menambah hiasan, kain itu akan kalian tudungkan pada kedua kepala kalian dalam balutan afeksi dan kognisi, membungkus kalian dengan simpul janji abadi. Menghangat pada dingin dan meneduhkan dari gusar.
Nanti, di kota teduh yang sama, waktu itu akan tiba.
Selamat berbahagia.
Saya beruntung berada di tempat dan waktu yang tepat untuk bisa mengenal kalian.
Maaf datang terlambat.
Senin, 18 Agustus 2014
ditulis oleh wafi, dikirim via wasap malam-malam agak dini hari dan saya bacanya pagi. pas baca udah keburu dingin.. haha. thanks berat bro, sudah datang. lalu tentulah bahagia. terima kasih sekali pisan. semoga begitu kiranya. amiiin..
Jumat, 02 Mei 2014
nasi padang kopi tubruk
ketika matahari
menuai gelap di pagi yang dingin
sisa-sisa malam telah menceritakan perkara nasi padang
yang kau mintai maaf karena tak kau habiskan
tak begitu dengan kopi dalam cangkir kaleng di tanganku yang menyurut perlahan
sisa-sisa malam menceritakan tanda tanya tak berjawaban
di sela-sela obrolan yang entah apa namun membuat tawa
dan diam yang entah mengapa namun menggetarkan rasa
terbangun gumpalan persepsi pada sebuah perjumpaan yang tak mau sirna
sisa-sisa malam telah menceritakan perkara nasi padang
yang kau mintai maaf karena tak kau habiskan
tak begitu dengan kopi dalam cangkir kaleng di tanganku yang menyurut perlahan
sisa-sisa malam menceritakan tanda tanya tak berjawaban
di sela-sela obrolan yang entah apa namun membuat tawa
dan diam yang entah mengapa namun menggetarkan rasa
terbangun gumpalan persepsi pada sebuah perjumpaan yang tak mau sirna
Minggu, 23 Maret 2014
Tips Agar Berkendara Motor Aman Nyaman Tentram Loh Jinawi
Supaya perjalanan dengan sepeda
motor kita berjalan dengan aman, lancar dan selamat sampai tujuan, sebelum berangkat
sebaiknya kita perlu memperhatikan hal-hal pendukung keselamatan dan kelancaran
dengan seksama. Hal-hal tersebut yakni:
Pemeriksaan
kondisi motor. Memeriksa kondisi motor sebelum perjalanan ini penting sekali
agar tidak sampai terjadi ngoprek-ngoprek motor di tengah perjalanan. Hal ini
bisa menyebabkan perjalanan anda terganggu bahkan lebih fatal lagi bisa menyebabkan
terjadinya kecelakaan.
- Periksa kondisi mesin apakah dalam kondisi fit atau tidak. Kemanapun tujuannya jika membawa motor yang kurang fit biasanya berakhir di bengkel.
- Periksa rem. Rem ini berperan ketika motor anda melaju kencang lalu di depan anda ada sebuah objek dalam keadaan diam atau lebih pelan tidak sebanding dengan kecepatan anda, tentu anda akan menginjak/menarik rem. Jika remnya tidak berfungsi dengan baik, angkot yang berhenti mendadak atau pak polisi yang sedang bertugas di jalan bisa-bisa anda tabrak. Rem merupakan bagian penting untuk keselamatan anda dan pengguna jalan lain.
- Periksa baud, mur dan sejenisnya. Kita tak akan tahu ketika kita sedang asyik mengendarai motor tiba-tiba roda depan atau belakang lepas dari fork atau arm, atau tiba-tiba setang-kemudinya lepas. Ini mengerikan sekali. Maka dari itu, sebelum berangkat, mur-mur yang longgar harus dalam keadaan kencang dan baud yang dol sebaiknya diganti.
- Periksa lampu-lampu. Tidak diragukan lagi bahwa mata tidak akan bisa melihat jika tak ada cahaya. Di malam hari, selain untuk melihat dengan jelas objek yang ada di depan, juga agar pengendara lain melihat keberadaan kita. Dan kita juga bisa melihat wajah Polisi Lalu Lintas yang menyutujui agar kendaraan kita jalan terus.
- Periksa bensin. Jangan ambil resiko dengan menunda-nunda untuk mengisi bensin ketika tangki hampir kosong karena jika anda kehabisan bensin di jalan dekat kuburan, air kencing anda tidak akan bisa dibakar oleh mesin motor yang hanya mengenal bensin.
Gunakan helm SNI standar pabrik. Menempelkan stiker SNI sendiri di helm tak standar merupakan pembohongan pada kepala sendiri. Helm bukan sekedar alat agar di jalan tidak diberhentikan Polisi, lebih dari itu adalah untuk keselamatan kita sendiri. Apa jadinya jika sebuah desa tak memiliki Kepala Desa. Pun demikian dengan tubuh kita, anggota tubuh lain tak akan berarti jika tanpa sebuah kepala yang utuh.
Membawa SIM dan STNK. SIM adalah identitas pengemudi dan STNK adalah identitas kendaraan, sepertinya sangat logis jika Polisi Lalu Lintas menilang pengendara motor yang tidak membawa SIM dan atau STNK.
Demikian hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan perjalanan dengan sepeda motor. Di lain kesempatan kita bahas hal-hal yang harus dihindari saat mengendarai sepeda motor. Terima kasih, mari berangkat!
Demikian hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan perjalanan dengan sepeda motor. Di lain kesempatan kita bahas hal-hal yang harus dihindari saat mengendarai sepeda motor. Terima kasih, mari berangkat!
"Ngaca Heula"
talent: Jimmy
talent: Jimmy
Senin, 06 Januari 2014
pada pertemuan sudut api dan ujung bungkus tembakau
kepada ayah,
ayah, aku sudah piawai menghisap rokok, sepertimu dahulu
ayah, aku baru mencobanya ketika kau mencoba untuk berhenti waktu itu
ayah, semoga anakku kelak tidak sepertiku ya ayah
ayah, aku sudah piawai menghisap rokok, sepertimu dahulu
ayah, aku baru mencobanya ketika kau mencoba untuk berhenti waktu itu
ayah, semoga anakku kelak tidak sepertiku ya ayah
Senin, 09 Desember 2013
Nyanyian Kodok untuk Mereka (Air-air itu)
Sore ini dan sore-sore kemarin
juga, benda cair itu berjatuhan dari ketinggian yang entah berapa meter
mengenai apa saja di bawahnya. Begitu lebat. Hujan yang besar sekali. Dan setelah
hujan mereda, jalanan tergenang banjir.
Sementara saya yang berkendara di
jalan sedikit gelisah, waktu tempuh menuju tujuan jadi melambat tak seperti
biasanya. Mencari jalan kesana kemari, celah-celah kecil pun dicoba barangkali
bisa mengantarkan terus ke depan sebisa mungkin. Saya yakin, manusia-manusia yang
menggigil dalam basah di jalan itu pun ingin segera sampai di mana mereka ingin
sampai.
Lalu mereka (air hujan itu)
bagaimana? Yang tergenang di jalan, yang tak disukai pemakai payung, bahkan mungkin
oleh badan yang tak memakai penolak hujan pun. Harus bagaimana hingga mereka (air-air
itu) terpaksa diam di jalanan, atau masuk
ke rumah-rumah penduduk?
Saya membayangkan, mungkin mereka
(air-air itu) juga ingin lekas pulang ke rumahnya, seperti halnya saya dan manusia lainnya di jalan yang tidak ingin terjebak
kemacetan.
Di atas genangan air yang
terjatuhi gerimis itu, mereka (air-air itu) seolah-olah berbicara, bahwasanya mereka
(air-air itu) ingin bekerjasama dengan saya dan manusia lainnya: bagaimana caranya
agar mereka (air-air itu) dan manusia bisa sampai ke rumahnya masing-masing
dengan lancar dengan tak perlu saling hadang di jalan?
Dilihat dari gerak-geriknya, mereka
(air-air itu) patuh pada gravitasi juga. Mencari tanah yang rendah untuk
mengantarkan mereka (air-air itu) ke tempat seharusnya, seperti seseorang dalam
perjalanan yang mencari jalan untuk lekas sampai tujuan. Tinggal bagaimana
caranya, manusia-lah yang membuatkan jalan untuk mereka (air-air itu). Atau kalau
tidak, kita harus berbagi ruang dengan mereka (air-air itu) dalam sudut-sudut
kamar, halaman dan jalanan. Sepertinya begitu.
Saya sadar, papan peringatan
-jangan buang sampah sembarangan- yang di pampang di halaman sekolah waktu SD bukanlah
sebuah hiasan. Tetapi mungkin terkadang saya lupa dan tak banyak pula yang
mengingat itu sampai dewasa. Khawatirnya, apatis sederhana dari seorang manusia
ini akan menjadi apatis besar-besaran ketika terjadi dalam jumlah manusia yang banyak.
Lalu air menggenang sehalaman rumah pun bisa menjadi selebar kota besar.
Langganan:
Postingan (Atom)
