ketika matahari
menuai gelap di pagi yang dingin
sisa-sisa malam telah menceritakan perkara nasi padang
yang kau mintai maaf karena tak kau habiskan
tak begitu dengan kopi dalam cangkir kaleng di tanganku yang menyurut perlahan
sisa-sisa malam menceritakan tanda tanya tak berjawaban
di sela-sela obrolan yang entah apa namun membuat tawa
dan diam yang entah mengapa namun menggetarkan rasa
terbangun gumpalan persepsi pada sebuah perjumpaan yang tak mau sirna
Saya suka imaji yang muncul dari puisi ini. Saya juga suka emosi yang tersisip di dalamnya. Ogin keren... (tapi Apis lebih keren)
BalasHapusomaygad apis!!! ahh dimana kau apiss? aku baru membuka halamanmu, ajegile sekaliii..!!
BalasHapusterima kasih, ogin.
BalasHapus