Senin, 10 April 2017
tentang foto di cover blog ini
Pada tahun 2010 lalu, aku datang ke kota Cirebon dengan maksud untuk bekerja di kota itu. Sebuah pengalaman menarik selepas lulus kuliah. Berbekal sebuah amanat kepercayaan dari sepupu ayah yang mengajakku untuk ikut bekerja dengannya. Aku merasa terpanggil. Aku tak mau melewatkan kesempatan itu.
Untuk berangkat ke Cirebon, dari Bandung biasanya aku naik bis yang berangkat dari terminal Cicaheum. Bis Sahabat jurusan Bandung-Cirebon atau bis Goodwill jurusan Bandung-Tegal. Hari itu, aku naik bis pada jam 9 malam. Ngetemnya cukup lama, hingga jam 11 bis baru berjalan dengan roda memutar pelan-pelan. Baru setelah melewati Cibiru, bis itu seolah-olah menemukan jati dirinya sebagai bis cepat.
Penumpangnya tidak begitu penuh, dalam satu baris jok isi tiga, aku duduk sendiri. Tidak ada pemandangan hingar bingar di luar jendala, hanya nampak rumah-rumah yang terlelap. Perjalanannya cukup panjang, bisa menghabiskan berlembar-lembar mimpi jika aku tertidur pulas selama perjalanan. Selain itu, perlu melewati kota Sumedang, Kadipaten dan Majalengka untuk sampai di kota Cirebon. Aku tertidur.
Di tengah mimpiku yang tidak begitu jelas, sang kondektur meneriakan "Kedawung kedawung!", mengisyaratkan bahwa waktunya aku turun dari bis sudah dekat, yakni pada perempatan selanjutnya. Aku terbangun dan bersiap. Lalu sampailah di sebuah perempatan, perempatan Kanggraksan. Aku turun di perempatan itu. Sementara itu, bis melaju kembali hingga terminal Harjamukti Cirebon yang tak jauh lagi. Setelah turun dari bis aku langsung naik becak.
Sebetulnya, jika aku sampai di Cirebon siang hari, aku bisa naik angkot yang mengarah ke jalan Pegambiran. Akan tetapi, dikarenakan aku sampai di Cirebon pada dini hari, angkot sudah tak ada, giliran tukang becak yang menawarkan jasanya. Meskipun begitu, aku suka naik becak. Seperti sihir, hanya dengan duduk melamun badan ini bergerak dengan tanpa diiringi dentuman suara mesin. Udara dingin pagi kota Cirebon pun menerjang wajah yang berkeringat namun dingin. Aku mulai ngantuk lagi. Waktu sudah dini hari sekitar jam tiga pagi.
Setelah turun dari becak, aku berjalan kaki sedikit melalui jembatan, masuk ke gerbang jalan sebuah perumahan. Perumahan di mana tempatku bekerja sekaligus tempat tinggal. Perumahan itu bernama Pegambiran Residen. Saat aku memasuki gerbang cluster dengan tenang, seorang security perumahan yang tidak mengenaliku berjalan membuntuti sampai aku masuk rumah. Aku tahu maksudnya, untuk hal keamanan.
Di dalam rumah biasanya ada Mas Aim yang belum tidur, itu pun kalau ia tahu aku mau datang. Sebelum tidur, sambil ngobrol-ngobrol sederhana di kamar, di dekat jendela yang terbuka, kami menyalakan rokok sebatang sebagai ritual kecil untuk merayakan pertemuan pada penghujung malam itu.
Kamar kami berada di lantai dua bagian depan. Sebuah kamar yang tidak berpintu namun mempunyai sebuah jendela cukup besar di bagian depan. Hampir setiap malam kami biarkan jendela terbuka, kecuali jika sedang turun hujan kami menutupnya. Maklum, udara di Cirebon pada saat itu terasa hangat. Di kamar kami, selimut tidak begitu laris.
Pagi hari, sedikit kesiangan, cuaca cerah. Perlahan-lahan aku membuka mata dan melihat ke arah jendela. Hembusan angin meniupkan daun dan ranting pohon yang berderet di tepi jalan. Daunnya berjatuhan di halaman dan ada beberapa yang masuk ke kamar. Sayangnya, cahaya matahari tidak masuk ke jendela kamar karena jendela kamar kami membelakangi arah matahari yang muncul. Aku mengambil kamera di atas meja dan mengambil foto jendela itu, sebagai dokumentasi bahwa aku pernah di situ. Hehehe.
Selasa, 13 Januari 2015
Madu di tangan kananmu, Jam Tangan di tangan kirimu.
Dulu, sekitar kelas 1 atau kelas
2 SD, ayahku memberiku sebuah jam tangan. Jam tangan dengan tampilan angka digital.
Pada jam itu, ada bagian kepala-tangan-kakinya kalau dibuka lipatannya. Semacam
transformer gitu kalau di film, bisa berubah menjadi robot-robotan.
Aku langsung memakaikan jam
tanganku itu di tangan kanan. Meski ayahku sempat menyarankan kalau memakai jam
tangan itu di tangan kiri, tetapi aku tetap memakainya di tangan kanan. Aku ingin
beda. Berbeda dengan teman-temanku dan orang lain pada waktu itu di daerahku
yang lazimnya memakai jam tangan di pergelangan tangan kiri. Dengan begitu, aku
merasa keren karena lain dengan yang lain. Hehehe. Karena waktu itu aku masih
kecil, mungkin aku memakai jam tangan bukan untuk kebutuhan melihat waktu jam
berapa, tetapi lebih ke hal suka-sukaan.
Masa sekolah dasar telah
terlewati, hingga aku sampai di bangku SMP, aku masih memakai jam tangan di
tangan kanan. Pada masa ini, aku tidak memerhatikan kekerenan memakai jam
tangan harus di tangan kanan atau tangan kiri, tetapi karena aku sudah terbiasa
di tangan kanan, jadi aku masih memakai jam tangan di tangan kanan.
Pagi hari, di kamarku, sebelum berangkat
ke sekolah, aku selalu mendengarkan ceramah KH. Zainuddin MZ yang diputar di
radio Kharisma FM (kalau gak salah sih itu nama stasiun radionya, yang pemancar
radionya itu di Ciater). Di tengah ceramahnya, Dai Sejuta Umat itu kira-kira berkisah
begini:
“Hei Tangan
Kanan, kamu enak ya, kamu itu bagian megang apa-apa yang bagus-bagus, buat
makan, ngasih barang ke orang, yang enak-enak semua sama kamu. Giliran cebok
sehabis buang hajat, bagianku. Sungguh tidak adil!” Keluh Tangan Kiri.
“Tenang saja,
nanti kalau majikan kita punya jam tangan, ia akan memakaikannya di kamu, wahai
Tangan Kiri.” Jawab Tangan Kanan.
Semenjak aku mendengar kisah KH.
Zainuddin MZ tentang jam tangan itu aku langsung memakai jam tangan di tangan
kiri. Aku berangkat ke sekolah dengan sensasi baru di tangan kiriku.
Rabu, 29 Oktober 2014
Lismita Maya binti Ahmad Hidayat Nasution (II)
aku tak tau ada apa di jalan Tol Jagorawi
ku kira kini ia akan jadi jalan favoritku
sebab kamu ada di sana sehabis jalan tol itu
sambutlah aku yang bergerak bersama cinta yang kubawa
dari sebelum masuk tol Cikampek-Jakarta
Ujungberung, 29 Oktober 2014
ku kira kini ia akan jadi jalan favoritku
sebab kamu ada di sana sehabis jalan tol itu
sambutlah aku yang bergerak bersama cinta yang kubawa
dari sebelum masuk tol Cikampek-Jakarta
Ujungberung, 29 Oktober 2014
Lismita Maya binti Ahmad Hidayat Nasution
pada malam dua desember dua ribu enam
percikan meteor jatuh di antara Bogor dan Subang
melubang ke dalam bumi dan mempertemukan dinding-dinding hati kita
gravitasi dasar bumi menjadi ada padamu
aku terjatuh di hatimu
Jumat, 22 Agustus 2014
Tugas utamanya adalah merajut
Kota Teduh - Kota Teduh
Waktu itu ada. Terasa tanpa bantuan indera. Jika saat ini kalian berbahagia, maka waktu itulah yang sedang kalian cerna.
Ketika waktu kau hitung ulang, lama dan panjang kalian merenda. Beberapa bagian sempurna, beberapa yang lain alpa. Tapi tak peduli bagaimana, kalian terus duduk dan mengisi satu sama lain. Saling memberi jarum, saling menarik gulungan benang. Ada rupa, rasa dan kata. Lalu perlahan menjelma.
Pertunangan adalah hasil kerja keras kalian dalam mengisi dan mengerti. Ada luka bekas di jari karena tertusuk tajamnya jarum. Ingatlah, ia tak bermaksud menyakiti. Tugas utamanya merajut, bukan untuk melukai. Dan nilai sesuatu tak boleh berganti hanya karena ia tak sengaja berperan pada hal yang bukan tujuan pembuatannya.
Kini kalian sudah berhasil merangkai kain. Helai demi helai benang. Dan terima kasih waktu. Kelak, dan hanya tinggal menambah hiasan, kain itu akan kalian tudungkan pada kedua kepala kalian dalam balutan afeksi dan kognisi, membungkus kalian dengan simpul janji abadi. Menghangat pada dingin dan meneduhkan dari gusar.
Nanti, di kota teduh yang sama, waktu itu akan tiba.
Selamat berbahagia.
Saya beruntung berada di tempat dan waktu yang tepat untuk bisa mengenal kalian.
Maaf datang terlambat.
Senin, 18 Agustus 2014
ditulis oleh wafi, dikirim via wasap malam-malam agak dini hari dan saya bacanya pagi. pas baca udah keburu dingin.. haha. thanks berat bro, sudah datang. lalu tentulah bahagia. terima kasih sekali pisan. semoga begitu kiranya. amiiin..
Waktu itu ada. Terasa tanpa bantuan indera. Jika saat ini kalian berbahagia, maka waktu itulah yang sedang kalian cerna.
Ketika waktu kau hitung ulang, lama dan panjang kalian merenda. Beberapa bagian sempurna, beberapa yang lain alpa. Tapi tak peduli bagaimana, kalian terus duduk dan mengisi satu sama lain. Saling memberi jarum, saling menarik gulungan benang. Ada rupa, rasa dan kata. Lalu perlahan menjelma.
Pertunangan adalah hasil kerja keras kalian dalam mengisi dan mengerti. Ada luka bekas di jari karena tertusuk tajamnya jarum. Ingatlah, ia tak bermaksud menyakiti. Tugas utamanya merajut, bukan untuk melukai. Dan nilai sesuatu tak boleh berganti hanya karena ia tak sengaja berperan pada hal yang bukan tujuan pembuatannya.
Kini kalian sudah berhasil merangkai kain. Helai demi helai benang. Dan terima kasih waktu. Kelak, dan hanya tinggal menambah hiasan, kain itu akan kalian tudungkan pada kedua kepala kalian dalam balutan afeksi dan kognisi, membungkus kalian dengan simpul janji abadi. Menghangat pada dingin dan meneduhkan dari gusar.
Nanti, di kota teduh yang sama, waktu itu akan tiba.
Selamat berbahagia.
Saya beruntung berada di tempat dan waktu yang tepat untuk bisa mengenal kalian.
Maaf datang terlambat.
Senin, 18 Agustus 2014
ditulis oleh wafi, dikirim via wasap malam-malam agak dini hari dan saya bacanya pagi. pas baca udah keburu dingin.. haha. thanks berat bro, sudah datang. lalu tentulah bahagia. terima kasih sekali pisan. semoga begitu kiranya. amiiin..
Jumat, 02 Mei 2014
nasi padang kopi tubruk
ketika matahari
menuai gelap di pagi yang dingin
sisa-sisa malam telah menceritakan perkara nasi padang
yang kau mintai maaf karena tak kau habiskan
tak begitu dengan kopi dalam cangkir kaleng di tanganku yang menyurut perlahan
sisa-sisa malam menceritakan tanda tanya tak berjawaban
di sela-sela obrolan yang entah apa namun membuat tawa
dan diam yang entah mengapa namun menggetarkan rasa
terbangun gumpalan persepsi pada sebuah perjumpaan yang tak mau sirna
sisa-sisa malam telah menceritakan perkara nasi padang
yang kau mintai maaf karena tak kau habiskan
tak begitu dengan kopi dalam cangkir kaleng di tanganku yang menyurut perlahan
sisa-sisa malam menceritakan tanda tanya tak berjawaban
di sela-sela obrolan yang entah apa namun membuat tawa
dan diam yang entah mengapa namun menggetarkan rasa
terbangun gumpalan persepsi pada sebuah perjumpaan yang tak mau sirna
Minggu, 23 Maret 2014
Tips Agar Berkendara Motor Aman Nyaman Tentram Loh Jinawi
Supaya perjalanan dengan sepeda
motor kita berjalan dengan aman, lancar dan selamat sampai tujuan, sebelum berangkat
sebaiknya kita perlu memperhatikan hal-hal pendukung keselamatan dan kelancaran
dengan seksama. Hal-hal tersebut yakni:
Pemeriksaan
kondisi motor. Memeriksa kondisi motor sebelum perjalanan ini penting sekali
agar tidak sampai terjadi ngoprek-ngoprek motor di tengah perjalanan. Hal ini
bisa menyebabkan perjalanan anda terganggu bahkan lebih fatal lagi bisa menyebabkan
terjadinya kecelakaan.
- Periksa kondisi mesin apakah dalam kondisi fit atau tidak. Kemanapun tujuannya jika membawa motor yang kurang fit biasanya berakhir di bengkel.
- Periksa rem. Rem ini berperan ketika motor anda melaju kencang lalu di depan anda ada sebuah objek dalam keadaan diam atau lebih pelan tidak sebanding dengan kecepatan anda, tentu anda akan menginjak/menarik rem. Jika remnya tidak berfungsi dengan baik, angkot yang berhenti mendadak atau pak polisi yang sedang bertugas di jalan bisa-bisa anda tabrak. Rem merupakan bagian penting untuk keselamatan anda dan pengguna jalan lain.
- Periksa baud, mur dan sejenisnya. Kita tak akan tahu ketika kita sedang asyik mengendarai motor tiba-tiba roda depan atau belakang lepas dari fork atau arm, atau tiba-tiba setang-kemudinya lepas. Ini mengerikan sekali. Maka dari itu, sebelum berangkat, mur-mur yang longgar harus dalam keadaan kencang dan baud yang dol sebaiknya diganti.
- Periksa lampu-lampu. Tidak diragukan lagi bahwa mata tidak akan bisa melihat jika tak ada cahaya. Di malam hari, selain untuk melihat dengan jelas objek yang ada di depan, juga agar pengendara lain melihat keberadaan kita. Dan kita juga bisa melihat wajah Polisi Lalu Lintas yang menyutujui agar kendaraan kita jalan terus.
- Periksa bensin. Jangan ambil resiko dengan menunda-nunda untuk mengisi bensin ketika tangki hampir kosong karena jika anda kehabisan bensin di jalan dekat kuburan, air kencing anda tidak akan bisa dibakar oleh mesin motor yang hanya mengenal bensin.
Gunakan helm SNI standar pabrik. Menempelkan stiker SNI sendiri di helm tak standar merupakan pembohongan pada kepala sendiri. Helm bukan sekedar alat agar di jalan tidak diberhentikan Polisi, lebih dari itu adalah untuk keselamatan kita sendiri. Apa jadinya jika sebuah desa tak memiliki Kepala Desa. Pun demikian dengan tubuh kita, anggota tubuh lain tak akan berarti jika tanpa sebuah kepala yang utuh.
Membawa SIM dan STNK. SIM adalah identitas pengemudi dan STNK adalah identitas kendaraan, sepertinya sangat logis jika Polisi Lalu Lintas menilang pengendara motor yang tidak membawa SIM dan atau STNK.
Demikian hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan perjalanan dengan sepeda motor. Di lain kesempatan kita bahas hal-hal yang harus dihindari saat mengendarai sepeda motor. Terima kasih, mari berangkat!
Demikian hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan perjalanan dengan sepeda motor. Di lain kesempatan kita bahas hal-hal yang harus dihindari saat mengendarai sepeda motor. Terima kasih, mari berangkat!
"Ngaca Heula"
talent: Jimmy
talent: Jimmy
Langganan:
Postingan (Atom)

