Label

Minggu, 24 Februari 2019

Motor Pertama

Selama saya kuliah, sekitar tahun 2004 s.d 2009, saya tidak punya motor dan memang pada saat itu saya tidak begitu terpikirkan untuk punya motor. Beberapa teman yang rumahnya di Bandung di antaranya ada yang punya motor. Mereka memakai sepeda motor untuk menghindari terlambat masuk jam kuliah dan juga untuk sekedar menghemat uang saku. Sementara itu, bagi saya yang tinggal di area kampus merasa belum begitu membutuhkan kehadiran sepeda motor di keseharian saya.

Setelah selesai masa kuliah, tahun 2010 awal saya bekerja di kota Cirebon. Pada saat itu mulai terbersit dalam hati untuk mempunyai sebuah sepeda motor. Tidak usah motor yang bagus atau mahal, yang penting bisa jalan dan tampilannya oke. Kawan saya di kampung yang pada saat itu sudah merantau ke kota Tanggerang telah lebih dulu membeli sepeda motor, sebuah sepeda motor keluaran tahun 70 an, Honda CB 100. Saya jadi terpacu, tersemangati dan terpengaruhi pada sepeda motor yang agak jadul tersebut. Saya pikir sepertinya asyik juga mengendarai sepeda motor CB 100 itu, namun saya belum lancar dengan sepeda motor berkopling tangan seperti pada motor CB 100.

Suatu hari, saya sedang nongkrong di depan tempat kerja di sebuah jendela memandang keluar ke jalan, melintas seorang pengendara sepeda motor dengan sepeda motor model cafe racer, warnanya biru dan nampak mulus, yang kemudian saya ketahui bahwa itu adalah motor Honda 90Z atau orang menyebutnya Honda Siki Nangka. Beberapa waktu setelah itu saya sempat ditawari oleh seorang kawan kuliah dulu, melalui chat di facebook ia memberi tahu bahwa ada yang mau menjual sepeda motor Honda 90Z-nya dengan harga dua juta, kondisi sehat dan body lumayan rapih. Namun karena saat itu saya belum punya tabungan dan berbagai kendala lainnya, saya pun belum bisa berjodoh untuk memilikinya. Sejak itu, saya bertekad lebih kuat lagi bahwa nanti kalau sudah punya uang dan siap membeli sepeda motor saya akan membeli Honda 90Z atau Honda CB100.

Sedikit demi sedikit saya mulai belajar melancarkan untuk mengendarai sepeda motor "cowok" yang ada kopling di tangan kirinya. Dengan bantuan salah seorang teman kerja, saya mencoba berkeliling mengendarai motor Honda Tiger menyusuri jalanan komplek Pegambiran Residen, sebuah komplek perumahan tempat saya bekerja pada saat itu.

Tahun 2010 berlalu, menginjak tahun 2011 saya bergerak ke kota Bandung. Saya mulai bekerja di sebuah kantor yang terletak di daerah Ujungberung. Pada bulan pertama kerja di tempat itu, saya langsung mencari informasi dan memantau iklan-iklan di internet barangkali ada yang menjual sepeda motor idaman saya, motor Honda CB100 atau Honda 90Z.

Setelah beberapa hari, saya menemukan sebuah postingan di Facebook yang menjual sepeda motor Honda CB100, harganya lumayan murah, namun kondisinya terlihat memprihatinkan. Saya merasa terpanggil untuk menyambanginya. Gaji pertama saya telah di tangan, tetapi masih belum cukup untuk membeli motor yang ada di iklan itu. Saya menyadari bahwa mimpi saya untuk memiliki sepeda motor belum sejalan dengan keadaan tabungan yang masih kosong.

Pikiran saya terus tertuju pada iklan sepeda motor CB100 itu hingga akhirnya saya memberanikan diri untuk mencoba menghubungi nomor telepon yang tertera. Nada panggil tersambung dan tak lama kemudian terdengar sapa si penjual. Saya jelaskan bahwa saya berminat dengan sepeda motor yang diiklankan itu tetapi uang saya baru ada setengahnya. Mungkin terdengar ngeselin ya, ingin beli tetapi amunisi belum siap. Percakapan berlangsung lumayan panjang dengan dibumbui keluh kesah kehidupan. Menjelang akhir obrolan, si penjual memberikan kesempatan bahwa sepeda motornya boleh langsung dibawa pulang oleh saya tetapi tidak dengan BPKB-nya. Uang pembayarannya boleh sebagian dulu, nanti bulan berikutnya BPKB baru saya dapatkan setelah saya melunasinya. Tak pikir panjang lagi, saya pun menyetujuinya dan membuat janji kalau nanti malam saya menuju lokasi sepeda motor itu berada.

Ditemani Budi, seorang pebengkel motor di seberang jalan tempat kerja saya, kami berangkat ke lokasi. Saya meminta bantuan Budi karena saya pikir dengan pengetahuannya yang luas pada sepeda motor saya harap ia bisa memberi masukan soal sepeda motor yang akan saya beli ini apakah mesinnya bagus atau tidak. Saya tidak mau banyak PR setelah membelinya walaupun memang motor yang termasuk kategori tua ini beresiko dengan kendala seperti mogok dan part-partnya yang mungkin banyak yang harus diperbaiki atau diganti.

Setiba di lokasi saya melihat kondisi sang CB100 si motor idaman tengah bersandar. Sepeda motor ini tidak punya standar, ia hanya disandarkan pada sebuah tiang di teras rumah. Sekilas gaya tampilan sepeda motor ini terlihat sangar. Majalah-majalah motor saat itu menyebut tampilan motor dengan gaya seperti itu adalah gaya japstyle. Tetapi kalau menurut saya sih mungkin ini japstyle yang belum jadi, karena beberapa bagian terlihat kurang oke dan perlu dibenahi. Saya pribadi sebetulnya lebih suka dengan penampilan sepeda motor apa adanya sesuai keadaan keluar pabriknya. Mungkin itulah PR saya kedepannya untuk merubah sedikit demi sedikit penampilan sepeda motor ini. Saat hendak pulang, saya masih ragu apakah bisa mengendarainya atau tidak. Ketika sepeda motor diselah, kick starter terasa berat, kata Budi itu menandakan bahwa kompresinya bagus, memungkinkan tenaga motor ini bisa berlari kencang atau kuat. Saya mencobanya beberapa kali hingga akhirnya kaki saya lemas dan menyerah. Saya serahkan ke Budi untuk mengendarainya sampai ke tempat kerja saya.

Oya, saat itu saya biasa nongkrong di kantor tempat saya kerja. Selepas jam kerja, saya ngobrol-ngobrol dan ngopi dulu dengan orang-orang sekitar sampai sebelum ngantuk lalu pulang. Di situlah saya mengenal Budi, ia membuka bengkel motor di seberang kantor saya. Kini bengkelnya sudah tidak ada, bangunannya berganti jadi garasi toko pakaian. Budi sekarang pindah ke Jakarta dan bekerja sebagai karyawan di sebuah pabrik sparepart pesawat terbang.

Jumat, 05 Oktober 2018

Kabel CDI

Vespaku baru ganti jadi CDI. Pake CDI RX King, ga tau normal atau nngga, belum dicoba jarak jauh lagi. Tapi sekarang doi lagi susah hidup juga sih, belum ditelusuri lagi kenapa-kenapanya, padahal udah ganti busi baru, hmm. Besok-besok dicek lagi aja deh :D

Senin, 10 April 2017

tentang foto di cover blog ini



Pada tahun 2010 lalu, aku datang ke kota Cirebon dengan maksud untuk bekerja di kota itu. Sebuah pengalaman menarik selepas lulus kuliah. Berbekal sebuah amanat kepercayaan dari sepupu ayah yang mengajakku untuk ikut bekerja dengannya. Aku merasa terpanggil. Aku tak mau melewatkan kesempatan itu.

Untuk berangkat ke Cirebon, dari Bandung biasanya aku naik bis yang berangkat dari terminal Cicaheum. Bis Sahabat jurusan Bandung-Cirebon atau bis Goodwill jurusan Bandung-Tegal. Hari itu, aku naik bis pada jam 9 malam. Ngetemnya cukup lama, hingga jam 11 bis baru berjalan dengan roda memutar pelan-pelan. Baru setelah melewati Cibiru, bis itu seolah-olah menemukan jati dirinya sebagai bis cepat.

Penumpangnya tidak begitu penuh, dalam satu baris jok isi tiga, aku duduk sendiri. Tidak ada pemandangan hingar bingar di luar jendala, hanya nampak rumah-rumah yang terlelap. Perjalanannya cukup panjang, bisa menghabiskan berlembar-lembar mimpi jika aku tertidur pulas selama perjalanan. Selain itu, perlu melewati kota Sumedang, Kadipaten dan Majalengka untuk sampai di kota Cirebon. Aku tertidur.

Di tengah mimpiku yang tidak begitu jelas, sang kondektur meneriakan "Kedawung kedawung!", mengisyaratkan bahwa waktunya aku turun dari bis sudah dekat, yakni pada perempatan selanjutnya. Aku terbangun dan bersiap. Lalu sampailah di sebuah perempatan, perempatan Kanggraksan. Aku turun di perempatan itu. Sementara itu, bis melaju kembali hingga terminal Harjamukti Cirebon yang tak jauh lagi. Setelah turun dari bis aku langsung naik becak.

Sebetulnya, jika aku sampai di Cirebon siang hari, aku bisa naik angkot yang mengarah ke jalan Pegambiran. Akan tetapi, dikarenakan aku sampai di Cirebon pada dini hari, angkot sudah tak ada, giliran tukang becak yang menawarkan jasanya. Meskipun begitu, aku suka naik becak. Seperti sihir, hanya dengan duduk melamun badan ini bergerak dengan tanpa diiringi dentuman suara mesin. Udara dingin pagi kota Cirebon pun menerjang wajah yang berkeringat namun dingin. Aku mulai ngantuk lagi. Waktu sudah dini hari sekitar jam tiga pagi. 

Setelah turun dari becak, aku berjalan kaki sedikit melalui jembatan, masuk ke gerbang jalan sebuah perumahan. Perumahan di mana tempatku bekerja sekaligus tempat tinggal. Perumahan itu bernama Pegambiran Residen. Saat aku memasuki gerbang cluster dengan tenang, seorang security perumahan yang tidak mengenaliku berjalan membuntuti sampai aku masuk rumah. Aku tahu maksudnya, untuk hal keamanan.

Di dalam rumah biasanya ada Mas Aim yang belum tidur, itu pun kalau ia tahu aku mau datang. Sebelum tidur, sambil ngobrol-ngobrol sederhana di kamar, di dekat jendela yang terbuka, kami menyalakan rokok sebatang sebagai ritual kecil untuk merayakan pertemuan pada penghujung malam itu.

Kamar kami berada di lantai dua bagian depan. Sebuah kamar yang tidak berpintu namun mempunyai sebuah jendela cukup besar di bagian depan. Hampir setiap malam kami biarkan jendela terbuka, kecuali jika sedang turun hujan kami menutupnya. Maklum, udara di Cirebon pada saat itu terasa hangat. Di kamar kami, selimut tidak begitu laris.

Pagi hari, sedikit kesiangan, cuaca cerah. Perlahan-lahan aku membuka mata dan melihat ke arah jendela. Hembusan angin meniupkan daun dan ranting pohon yang berderet di tepi jalan. Daunnya berjatuhan di halaman dan ada beberapa yang masuk ke kamar. Sayangnya, cahaya matahari tidak masuk ke jendela kamar karena jendela kamar kami membelakangi arah matahari yang muncul. Aku mengambil kamera di atas meja dan mengambil foto jendela itu, sebagai dokumentasi bahwa aku pernah di situ. Hehehe.

Selasa, 13 Januari 2015

Madu di tangan kananmu, Jam Tangan di tangan kirimu.



Dulu, sekitar kelas 1 atau kelas 2 SD, ayahku memberiku sebuah jam tangan. Jam tangan dengan tampilan angka digital. Pada jam itu, ada bagian kepala-tangan-kakinya kalau dibuka lipatannya. Semacam transformer gitu kalau di film, bisa berubah menjadi robot-robotan. 

Aku langsung memakaikan jam tanganku itu di tangan kanan. Meski ayahku sempat menyarankan kalau memakai jam tangan itu di tangan kiri, tetapi aku tetap memakainya di tangan kanan. Aku ingin beda. Berbeda dengan teman-temanku dan orang lain pada waktu itu di daerahku yang lazimnya memakai jam tangan di pergelangan tangan kiri. Dengan begitu, aku merasa keren karena lain dengan yang lain. Hehehe. Karena waktu itu aku masih kecil, mungkin aku memakai jam tangan bukan untuk kebutuhan melihat waktu jam berapa, tetapi lebih ke hal suka-sukaan.

Masa sekolah dasar telah terlewati, hingga aku sampai di bangku SMP, aku masih memakai jam tangan di tangan kanan. Pada masa ini, aku tidak memerhatikan kekerenan memakai jam tangan harus di tangan kanan atau tangan kiri, tetapi karena aku sudah terbiasa di tangan kanan, jadi aku masih memakai jam tangan di tangan kanan. 

Pagi hari, di kamarku, sebelum berangkat ke sekolah, aku selalu mendengarkan ceramah KH. Zainuddin MZ yang diputar di radio Kharisma FM (kalau gak salah sih itu nama stasiun radionya, yang pemancar radionya itu di Ciater). Di tengah ceramahnya, Dai Sejuta Umat itu kira-kira berkisah begini: 

“Hei Tangan Kanan, kamu enak ya, kamu itu bagian megang apa-apa yang bagus-bagus, buat makan, ngasih barang ke orang, yang enak-enak semua sama kamu. Giliran cebok sehabis buang hajat, bagianku. Sungguh tidak adil!” Keluh Tangan Kiri.
“Tenang saja, nanti kalau majikan kita punya jam tangan, ia akan memakaikannya di kamu, wahai Tangan Kiri.” Jawab Tangan Kanan.

Semenjak aku mendengar kisah KH. Zainuddin MZ tentang jam tangan itu aku langsung memakai jam tangan di tangan kiri. Aku berangkat ke sekolah dengan sensasi baru di tangan kiriku. 

Maaf ya tangan kiri, mungkin semasa aku SD, kamu sedih. Kini aku pakaikan jam tangan di kamu. Ya meskipun jam tangan yang murah, tetapi kamu bisa ngasih tau aku kalau sekarang jam berapa. Hehehe..

Rabu, 29 Oktober 2014

Lismita Maya binti Ahmad Hidayat Nasution (II)

aku tak tau ada apa di jalan Tol Jagorawi
ku kira kini ia akan jadi jalan favoritku
     sebab kamu ada di sana sehabis jalan tol itu

sambutlah aku yang bergerak bersama cinta yang kubawa
     dari sebelum masuk tol Cikampek-Jakarta


                                          Ujungberung, 29 Oktober 2014

Lismita Maya binti Ahmad Hidayat Nasution

pada malam dua desember dua ribu enam
percikan meteor jatuh di antara Bogor dan Subang
melubang ke dalam bumi dan mempertemukan dinding-dinding hati kita
gravitasi dasar bumi menjadi ada padamu
aku terjatuh di hatimu

Jumat, 22 Agustus 2014

Tugas utamanya adalah merajut

Kota Teduh - Kota Teduh
Waktu itu ada. Terasa tanpa bantuan indera. Jika saat ini kalian berbahagia, maka waktu itulah yang sedang kalian cerna. 
Ketika waktu kau hitung ulang, lama dan panjang kalian merenda. Beberapa bagian sempurna, beberapa yang lain alpa. Tapi tak peduli bagaimana, kalian terus duduk dan mengisi satu sama lain. Saling memberi jarum, saling menarik gulungan benang. Ada rupa, rasa dan kata. Lalu perlahan menjelma.
Pertunangan adalah hasil kerja keras kalian dalam mengisi dan mengerti. Ada luka bekas di jari karena tertusuk tajamnya jarum. Ingatlah, ia tak bermaksud menyakiti. Tugas utamanya merajut, bukan untuk melukai. Dan nilai sesuatu tak boleh berganti hanya karena ia tak sengaja berperan pada hal yang bukan tujuan pembuatannya.
Kini kalian sudah berhasil merangkai kain. Helai demi helai benang. Dan terima kasih waktu. Kelak, dan hanya tinggal menambah hiasan, kain itu akan kalian tudungkan pada kedua kepala kalian dalam balutan afeksi dan kognisi, membungkus kalian dengan simpul janji abadi. Menghangat pada dingin dan meneduhkan dari gusar.
Nanti, di kota teduh yang sama, waktu itu akan tiba.
Selamat berbahagia.
Saya beruntung berada di tempat dan waktu yang tepat untuk bisa mengenal kalian.

Maaf datang terlambat.
Senin, 18 Agustus 2014



ditulis oleh wafi, dikirim via wasap malam-malam agak dini hari dan saya bacanya pagi. pas baca udah keburu dingin.. haha. thanks berat bro, sudah datang. lalu tentulah bahagia. terima kasih sekali pisan. semoga begitu kiranya. amiiin..